Jumat, 15 Maret 2019

PATRIOTISME PRAJURIT GERAK TJEPAT ANGKATAN UDARA (PGT AU) DALAM OPERASI TRIKORA


PATRIOTISME  PRAJURIT GERAK TJEPAT ANGKATAN UDARA (PGT AU) DALAM OPERASI TRIKORA
”Trikora merupakan operasi untuk merebut Papua Barat dari penguasaan Belanda dalam rangka kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia”

Pendahuluan
Masa depan suatu bangsa merupakan milik generasi muda namun meskipun demikian, masa depan itu tidaklah berdiri sendiri karena merupakan kelanjutan dari dari masa lalu dan masa sekarang, artinya masa depan merupakan representasi dari masa lalu. Oleh karena itu perlu adanya penyampaian kepeloporan-kepeloporan yang pernah dilakukan oleh generasi pendahulu khususnya yang telah menghasilkan sesuatu yang berguna terhadap kehidupan bangsa dan negara.
Menurut teori Geertz seperti yang dikutip Burhan Magenda (2001:49-56) bahwa diperlukan lembaga-lembaga persatuan melalui state building sehingga ketika the founding fathers sudah meninggal, negara bangsa tetap bertahan dan tidak pecah. Adapun lembaga-lembaga tersebut diantaranya : birokrasi sipil dan militer, partai politik, sistem pendidikan nasional, serta kemajuan komunikasi dan transportasi serta identitas nasional yang merujuk pada karakter kolektif bangsa dan dasar historis-kulturalnya. Setiap bangsa dianggap memiliki kaitan dengan suatu budaya historis yang khas, cara tunggal dalam berpikir, bertindak, dan berkomunikasi yang menjadi milik bersama bagi semua anggota bangsa (paling tidak secara potensial) dan tidak dimiliki oleh non-anggota, karena non-anggota tidak dapat memilikinya dan apabila budaya khas itu dilupakan atau tenggelam, maka ia harus ditemukan, diingat dan dimunculkan kembali (Smith,2003:33-34). Jadi sejarah nasional berfungsi untuk melambangkan identitas bangsa serta untuk melegitimasikan eksistensi negara nasional (Kartodirdjo,1999:29).
Perjalanan sejarah bangsa Indonesia diwarnai dengan beberapa peristiwa heroik, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara pada awal-awal pembentukkan sudah menorehkan tinta emas dalam memperjuangkan integrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pasukan Gerak Tjepat Angkatan Udara (PGT AU) yang merupakan bagian integral dari TNI AU mengambil bagian penting dalam perjalanan sejarah bangsa ini. Peran yang dijalankan pada perjuangan pembebasan Irian Barat menjadi salah satu dari sekian banyak peran yang telah dijalankan. Menjadi hal penting pengkomunikasian dari apa yang telah dilakukan oleh para senior untuk bangsa ini kepada generasi penerus untuk dapat menjadi contoh dan diambil hikmahnya. Tulisan ini berupanya untuk menyampaikan mengenai peran yang telah dilakukan oleh para Prajurit PGT AU dalam Operasi Trikora.

Pembentukkan Negara Papua dan Respon Pemerintah Indonesia
Pada saat Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, wilayahnya merupakan seluruh wilayah Hindia Belanda, termasuk wilayah Irian Barat. Pada saat itu, Irian Barat masih dipertahankan oleh Belanda. Menghadapi masalah Irian Barat,Indonesia mula-mula melakukan upaya damai, yakni melalui diplomasi bilateral dalam lingkungan ikatan Uni Indonesia-Belanda. Akan tetapi usaha-usaha melalui meja perundingan secara bilateral ini selalu mengalami kegagalan. Setelah upaya-upaya tersebut tidak mambawa hasil maka sejak tahun 1953 perjuangan pembebasan Irian Barat mulai dilakukan di forum- forum internasional, terutama PBB dan forum-forum solidaritas Asia-Afrika seperti Konferensi Asia-Afrika. Sejak tahun 1954 masalah Irian Barat ini selalu dibawa dalam acara Sidang Majelis Umum PBB, namun upaya ini pun tidak memperoleh tanggapan yang positif. Setelah upaya-upaya diplomasi tidak mencapai hasil maka pemerintah mengambil sikap yang lebih keras. Pada tanggal 17 Agustus 1956 Indonesia membentuk Provinsi Irian Barat dengan ibukota di Soasiu yang berada di Pulau Tidore, dengan gubernur pertamanya, Zainal Abidin Syah yang dilantik pada tanggal 23 September 1956. Namun demikian, pihak Belanda masih menganggap bahwa wilayah tersebut merupakan salah satu salah satu provinsi dari Kerajaan Belanda dan terus berupaya untuk menjadikan sebagai Negara Papua. Pada tanggal 31 Oktober 1961, bendera Papua dikibarkan untuk pertama kali dan manifesto kemerdekaan diserahkan kepada Gubernur Platteel. Belanda mengakui bendera dan lagu kebangsaan Papua ”Hai Tanahkoe Papua”, pada tanggal 18 November 1961.
Tindakan Belanda dengan mendirikan negara “Boneka” Papua tersebut merupakan sikap yang menantang kepada bangsa Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah segera meresponnya. Guna membebaskan Irian Barat, Presiden Soekarno dalam suatu rapat raksasa di Yogyakarta tanggal 19 Desember 1961 mengeluarkan komando yang terkenal sebagai Tri Komando Rakyat (Trikora) yang isinya sebagai berikut :
1.      Gagalkan pembentukan “Negara Papua” bikinan Belanda.
2.      Kibarkan Sang Merah Putih di Irian Barat tanah air Indonesia.
3.      Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air dan bangsa.
           
Infiltrasi Udara
Sebagai tindak lanjut dari Tri Komando Rakyat tersebut, para perancang strategi perang nasional membuat suatu keputusan yang sangat penting. Berdasarkan pertimbangan dimensi ruang dan waktu, mereka memutuskan bahwa operasi-operasi yang dilancarkan melalui media udara adalah cara yang paling efektif dan menguntungkan. Apalagi pertimbangan dari faktor kekuatan dan kemampuan, penggunaan kekuatan AURI saat itu adalah yang paling memungkinkan karena menjelang dilancarkannya Operasi Trikora, AURI sedang berada di puncak kejayaannya serta telah memiliki pasukan terjun payung yang handal dan telah teruji dalam penumpasan-penumpasan separatis di wilayah Indonesia yaitu Pasukan Gerak Tjepat yang merupakan cikal bakal Korpaskhasau (Korp Pasukan Khas TNI Angkatan Udara) sekarang ini. Tahap awal pembabakan Operasi Trikora adalah operasi infiltrasi melalui udara dengan menerjunkan pasukan melalui udara langsung ke Irian Barat. Dalam rangka faktor pendadakan, operasi dilaksanakan pada malam hingga pagi hari. PGT AU atau Pasukan Gerak Tjepat Angkatan Udara mengambil peran yang sangat penting dalam operasi-operasi yang dilaksanakan, baik yang diintegrasikan dengan pasukan dari RPKAD dan Benteng Raider sebagai pemandu maupun yang diinflitrasikan secara tersendiri telah menorehkan tinta emas dalam perjalanan sejarah perjuangan bangsa.

Operasi Benteng Ketaton
Sesuai dengan Perintah Operasi (PO) Panglima Mandala (Pangla) No.01/PO/SR/4/1962 tanggal 11 April 1962 maka raid infiltrasi melalui udara akan dilakukan oleh gabungan pasukan dari PGT-AU dan RPKAD. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa Belanda tidak akan mengira jika pasukan Indonesia akan melakukan hal tersebut mengingat rimba raya Irian Barat yang mempunyai medan sangat sulit untuk dilakukan pendaratan pasukan terjun. Para penerjun diinstruksikan untuk menyusup ke daerah lawan. Tujuannya untuk mengacaukan situasi dari dalam sekaligus menarik perhatian Belanda agar tertuju ke wilayah daratan (tengah) sehingga pasukan kawan yang akan mendarat di pantai (daerah pinggir) dapat masuk lebih leluasa. Tujuan lainnya untuk merusak radar milik Belanda yang berada di Kaimana.
Pada tanggal 15 April 1962, Kolonel Udara Wiriadinata didampingi SMU Picaulima serta KU I Atjim Sunahju dipanggil untuk menghadap Men/Pangau Laksamana Madya Udara Oemar Dhani. Pemanggilan tersebut berkaitan dengan akan diterjunkannya 18 anggota PGT-AU dibawah pimpinan SMU Picaulima ke daerah Irian Barat terintegrasi dengan 30 prajurit pasukan RPKAD dan 2 prajurit Zeni dibawah pimpinan Letda Agus Hernoto. Tanggal 26 April 1962 penerjunan dilaksanakan dengan sasaran wilayah Fak-Fak dan Kaimana. Penerjun memakai overall warna hijau tanpa tanda pangkat dan dibekali dengan senjata G-3 beserta peluru dan 6 buah granat tangan serta perlengkapan makan.
Dropping pasukan dilaksanakan pagi hari dengan sasaran sebelah utara kota Fak-Fak. Para penerjun mendarat tersebar dan beberapa tersangkut di pepohonan, hal tersebut merupakan suatu keuntungan karena beban yang dibawa para penerjun cukup berat sehingga mempunyai resiko apabila langsung mendarat ditanah. PU I Pardjo tersangkut di atas pohon yang tinggi dan setelah melepas parasut berusaha turun dengan menggunakan tali. Pasukan yang diterjunkan kemudian melakukan konsolidasi dan hasilnya adalah satu orang dinyatakan hilang. Kontak senjata terjadi dengan pasukan Belanda karena kekuatan tidak seimbang maka pasukan menyusup ke hutan. Pergerakan pasukan dilakukan dengan kondisi yang semakin lemah karena kehabisan bahan makanan. Terjadi kontak dengan pasukan Belanda yang menyebabkan 3 orang anggota PGT-AU gugur yaitu KU I Atjim Sunahyu, PU I Suwito, PU I Lestari dari dan 2 orang dari RPKAD. Letda Agus Hernoto dan beberapa anggota tertawan, sisanya kembali bergerilya ke hutan belantara termasuk PU I Pardjo yang kakinya tertembak.
Penerjunan di daerah Kaimana dilakukan oleh 1 team gabungan PGT-AU dan RPKAD dibawah pimpinan Letda Heru Sisnodo dengan misi untuk menghancurkan radar di Kaimana. Pasukan dibekali uang Gulden Papua, teknik mendekati sasaran dengan mengikuti jejak pasukan Belanda dan menggunakan penduduk setempat yang terpercaya sebagai penunjuk jalan. Pertama yang diterjunkan adalah logistik dan daerah penerjunan terlihat dari atas seperti hamparan daratan yang rata, padahal itu semua hanya fatamorgana karena dropping zone merupakan hutan belantara yang sangat rawan. Dalam penerjunan tersebut, dua orang anggota mengalami cidera patah kaki dan alat komunikasi rusak sehingga tidak dapat digunakan. Anggota PGT-AU yang diterjunkan adalah KU I Sahudi, KU I Fortianus, KU I J.Dompas, KU II Jhon Saleky, KU II Aipasaa serta 4 anggota PGT-AU. KU I Sahudi tersangkut di atas pohon yang tingginya kira-kira 30 M, sedangkan KU I Dompas menderita patah tulang punggung namun masih bisa melanjutkan operasi. Konsolidasi memakan waktu yang cukup lama dan sering terjadi kontak senjata dengan pasukan Belanda. Dalam suatu pertempuran, KU I Fortianus tertembak dadanya hingga gugur sedangkan KU I Sahudi tertinggal karena cedera dan akhirnya tertawan Belanda.




Operasi Garuda
 Operasi ini berdasarkan kepada PO Pangla No.02/PO/SR/5/1962 tanggal 13 Mei 1962 dengan sasaran Kaimana dan Fak-Fak sebagai kelanjutan dari Operasi Benteng.. Tanggal 15 Mei 1962 diterjunkan anggota PGT AU terintegrasi dengan pasukan Yon-454/BR-Diponegoro,sasaran adalah daerah Kaimana.. Pada tanggal 19 Mei 1962, dilaksanakan penerjunan pasukan yang terdiri dari 84 prajurit gabungan  dari  PGT AU dan Pasukan Benteng Raiders dari Semarang. Penggabungan ini dengan pertimbangan bahwa anggota dari Benteng Raiders baru menyelesaikan pendidikan terjun sehingga perlu didampingi oleh pasukan yang mempunyai pengalaman dalam operasi penerjunan maka PGT AU lah yang paling tepat untuk mendampingi pasukan.Berdarkan pertimbangan tersebut maka pasukan dari PGT AU dipecah dan setiap regu minimal ada satu orang PGT AU dengan tujuan memandu pasukan. Para penerjun membawa makanan,pakaian, senjata G-3 dan Pistol FN-45 beserta amunisi. Cuaca pada saat itu hujan sehingga pemandangan menjadi gelap gulita dan udara terasa sangat dingin sekali karena waktu masih menunjukkan 04.00 pagi hari.
SMU Slamet yang menjabat sebagai komandan peleton beserta 4 orang anggota BR mendarat di atas pepohonan, baru siang hari mereka dapat turun dan mencari teman-teman yang lainnya. Akhirnya mereka bertemu dengan 3 orang anggota yang salah satunya dalam kondisi pingsan. Tempat pendaratan merupakan daerah pesisir utara kota Fak-Fak yang bernama Kampung Kokas. Hampir satu bulan berada di kampung tersebut untuk melakukan konsolidasi, hasilnya berhasil mengumpulkan 5 anggota lainnya. Perjalanan dilanjutkan untuk menuju ke arah kota Fak-Fak dan dalam perjalanan tersebut terjadi sedikitnya 6 kali kontak tembak yang telah menewaskan 2 orang anggota dari BR dan 2 anggota PGT AU yaitu KU I Barus dan KU Sugiman. Akhirnya SMU Slamet beserta sisa pasukannya tertawan oleh Belanda.
Penerjun lainnya adalah KU I Kamari selama lebih dari seminggu survival sendirian di dalam hutan, setelah bertemu dengan KU II Kasiman, PU I Yachman dan PU I Lani kemudian melanjutkan perjalanan untuk mencari induk pasukan dan pada tanggal 30 Mei 1962 akhirnya mereka bertemu dengan 17 anggota BR dan kemudian bergabung untuk melanjutkan perjalanan menuju kota Fak-Fak. Penunjuk arah hanya mengandalkan tanda-tanda alam karena tidak ada yang membawa kompas dan Peta yang dibawa sudah tidak sesuai dengan medan karena peta tersebut buatan tahun 1912. Seluruh anggota pasukan dalam kondisi lemah karena kekurangan bahan makanan ditambah dengan sering terjadinya kontak senjata, tercatat 7 kali terjadi kontak tembak. Keempat anggota PGT AU dan beberapa rekan dari BR sampai akhir bulan Agustus tidak pernah tertawan oleh Belanda, perlawanan yang total sebagai prajurit telah dibuktikan oleh mereka.
Pada tanggal 25 Mei 1962 dilaksanakan operasi penerjunan di daerah Sansopor-Sorong yang dilakukan oleh 80 orang PGT AU. Inflitrasi ini dilakukan untuk memperkuat pasukan yang telah lebih dulu diterjunkan di daerah Sansopor. Tugas utamanya adalah untuk melaksanakan serangan dan mempersiapkan pendaratan pasukan bagi operasi yang akan dilaksanakan dikemudian hari dan dalam rangka merusak sarana komunikasi pihak lawan. Tim PGT AU yang diterjunkan di Sansopor-Sorong di bawah Komandan Peleton LMU II Kasian. Para penerjun mengalami kesulitan dalam mendarat karena medan berupa rawa-rawa dan pepohonan yang tinggi. PU I Marno, terjerat oleh tali perasutnya, setelah berhasil melepaskan diri kemudian menolong seorang temannya yang terjepit dua pohon besar. KU I Bakar ditemukan dalam keadaan terluka pada kedua kakinya. PU I Sumadiredjo mendarat selamat ditanah dan menemukan dua rekannya yaitu PU I Husein dan PU II Usman B dalam keadaan tewas. Beberapa prajurit PGT AU lain mendarat tepat di atas mess Belanda sehingga kontak senjata langsung terjadi. KU I Maliki dan PU I Kusno gugur serta PU II Suradi tertawan Belanda. Beberapa hari kemudian bertemu dengan Komandan Kompi LU I Soeyoto dan Wakil Komandan Kompi LMU I Karni dan mendapatkan berita bahwa 1 regu PGT AU yang berada di Klamono dibawah pimpinan PU I Tukijo tertawan Belanda.

Operasi Srigala
            Dasar operasi ini adalah PO Pangla No.03/SR/5/62 tanggal 13 Mei 1962 dengan sasaran daerah Sorong dan sekitarnya. Pasukan yang akan diterjunkan adalah dari PGT AU dibawah pimpinan LU I Manuhua dan Wakilnya adalah LMU I Suhadi , SMU Soepangat dan SMU Mengko. Pada tanggal 15 Mei 1962 rencananya dilaksanakan penerjunan namun gagal karena cuaca yang sangat buruk, baru pada tanggal 17 Mei 1962 pukul 04.00 pagi hari penerjuanan dilaksanakan. 81 anggota PGT AU dengan menggunakan 3 pesawat Dakota rencananya akan diterjunkan di daerah Klamono, namun hanya satu pesawat yang berhasil diterjunkan yaitu 27 orang Tim PGT AU dengan komandan Tim LU I Manuhua serta Dan Ton SMU Soepangat. Perlengkapan yang dibawa para penerjun adalah senjata G-3 dengan 500 butir amunisi, Pistol FN-46 dengan 100 butir amunisi (khusus Dan Ru keatas), granat dua buah, pakaian preman dan overall hijau tanpa pangkat, beras 1 kg, tali 30 M serta perlengkapan makan, kampak dan parang.
KU I Supardi adalah adalah penerjun pertama dan yang bertindak sebagai jumping master adalah KU I Ngatmo. Penerjunan mengambil ketinggian 2.500 kaki, hal ini dilakukan untuk menghindari perbukitan yang ada di sebelah timur dropping zone. Banyak penerjun yang mendarat di atas pohon dan baru bisa turun setelah beberapa hari seperti yang dialami KU I Supardi. Pasukan penerjun ternyata mendarat secara menyebar dan berada di wilayah sebelah utara Klamono, tepatnya di Pegunungan Mariyat yang berupa hutan belukar. Pada hari ketiga KU I Supardi baru  bertemu dengan teman-temannya antara lain SU I Angkow, KU I Muis, KU I Muis, KU I Kusno, SU II Souisay dan PU I Sutarmono. Beberapa hari kemudian baru bertemu dengan LU I Manuhua yang masih tergantung di atas pohon, kemudian diturunkan namun menderita keseleo kakinya sehingga berjalan dengan terpincang-pincang. Selama dua minggu penerjun yang terkumpul adalah 12 orang. LU I Manuhua memutuskan pasukan dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari 7 orang anggota dipimpin LU I Manuhua dan 5 anggota lainnya dipimpin LU I Supardi.
Kelompok yang dipimpin LU I Manuhua berjalan menyusuri Sungai yang mengarah ke daerah Klamono dan terjadi kontak tembak yang menyebabkan PU I Slamet gugur dan KU II Kusaeri hilang dan dari pihak Belanda juga jatuh korban. Sisa pasukan kemudian berjalan kembali dan bertemu dengan PU I Sutarmono. Pada KM 12 (sebelah tenggara Sorong) terjadi insiden yang mengakibatkan gugurnya LU I Manuhua beserta seluruh anak buahnya dan yang selamat hanyalah PU I Sutarmono.Kelompok yang lainnya berjumlah 8 orang dipimpin SU II Souisay mengalami kontak tembak dengan Belanda dan gugur beberapa prajurit dan sisanya tertawan Belanda.

PGT AU kibarkan Sang Merah Putih di Bumi Irian Jaya
Pada tanggal 19 Mei 1961 dengan menggunakan 1 pesawat C-130 Hercules telah diterjunkan sebanyak 81 orang anggota PGT AU (54 orang yang tertunda penerjunan di daerah Sorong) di wilayah Teminanbuan di bawah pimpinan LMU I Suhadi dengan dibagi menjadi 3 Peleton yaitu Dan Ton I LMU I Suhadi merangkap Dan Tim, Dan Ton II SMU Ngarbingan dan Dan Ton III SU I Mengko.Tepat pukul 02.30 penerjunan dilaksanakan, sebagian besar pasukan diantaranya PU I Lili Sumarli dan PU I Gunarso terkejut karena mendarat di atap seng yang ternyata asrama tentara Belanda, kontak tembak terjadi dan pasukan Belanda mengundurkan diri ke kota Teminanbuan. KU II Alex Sangido dan KU II Wangko gugur  serta KU II Liud tertangkap. Menjelang siang, pasukan bergeser ke hutan untuk bergabung dengan induk pasukan yang posisinya juga tercerai berai. Siang harinya baru terkumpul dan dengan dipimpin Dan Ton SMU Ngarbingan. Sore hari pasukan yang terkumpul ada sekitar 30 orang, diantaranya PU I Gunarso, PU I Sunarto, PU I Misno, PU I Kosim dan beberapa pasukan dari peleton LMU I Suhadi.
            Pada tanggal 21 Mei 1962 pasukan PGT AU pimpinan LMU I Suhadi berjumlah sekitar 40 orang berkumpul di Kampung Wersar. Atas inisiatif SU I Mengko ditempat inilah bendera Merah Putih dikibarkan. Hal ini merupakan pengibaran bendera Merah Putih yang pertama kali di bumi Irian Barat. Pukul 10.00, SU I Mengko dengan dibantu beberapa orang lainnya mengibarkan Sang Merah Putih. Pasukan kemudian meninggalkan tempat tersebut menuju ketinggian untuk menghindari serangan dari Belanda. Selang beberapa lama ternyata insting prajurit tersebut menjadi kenyataan, pesawat neptune Belanda membombardir daerah tersebut, namun berkat kesigapan anggota pasukan dapat menghindar sambil terus melakukan perlawanan. Serangan tersebut tidak menimbulkan korban jiwa dan semua pasukan dalam keadaan selamat tidak ada yang cedera. Belanda terus melakukan serangan, baik dari udara dengan menggunakan pesawat neptune dan pesawat firefly maupun dengan menggunakan pasukan darat. PGT AU melakukan perlawanan secara sengit namun akhirnya pasukan menjadi tercerai berai menjadi beberapa kelompok kecil. Kelompok PU I Gunarso beserta 4 orang yang lainnya terlibat baku tembak yang menyebabkan PU I Kardi terluka pada tangannya dan kemudian tertangkap dan pada akhirnya KU II Ngatijan, KU II Hadi Suprapto, KU II Radar dan KU II Basri tertawan Belanda sedangkan PU II Sugondo berhasil meloloskan diri.
            Pada tanggal 24 Mei 1962, pasukan LMU I Suhadi yang sedang berusaha melakukan pengunduran pasukan meninggalkan pertempuran di Teminanbuan mendapat serangan dari Belanda. Pertempuran jarak dekat terjadi dan LMU I Suhadi gugur dengan luka tembak dikepala termasuk SU I Sukardji. PU I Lili Sumarli. PU I Roedjito sempat menguburkan jenazah LMU I Suhadi. Sebelum melanjutkan kembali bergerilya dan bertemu dengan kelompok KU I Samingan beserta 2 anggotanya. Belanda terus melakukan pengejaran dan terjadi lagi kontak senjata dan akhirnya KU I Samingan dan 2 orang anggotan lainnya gugur. Sisa pasukan kembali melakukan perlawanan sambil terus berusaha untuk melakukan pengunduruan.
            Kelompok SU I Mengko beserta anggotanya pada tanggal 26 Mei 1962 mengalami kontak senjata dengan pasukan Belanda dan mengakibatkan 4 orang prajurit PGT AU gugur. Setelah mengembara beberapa hari, akhirnya kelompok SU I Mengko bertemu dengan sisa pasukan kelompok PU I Roedjito. Pada tanggal 14 Juni 1962 pasukan tersebut mendapat serangan dari Belanda yang pada akhirnya SU I Mengko dan beberapa anggota tertawan Belanda namun 3 orang yaitu PU I Roedjito, PU I Istat dan PU I Gunarso dapat meloloskan diri. Pada tanggal 22 Juni 1962 mereka mendapat serangan yang menyebabkan mereka tertawan dan dimasukan ke kamp tahanan Belanda.


Operasi Jatayu
            Operasi ini berdasarkan kepada PO Pangla No.15/PO/SR/7/1962 tanggal 9 Agustus 1962. Infiltrasi ini merupakan penutup dengan tujuan memaksa Belanda untuk segera meninggalkan Irian Barat. Operasi ini dilakukan secara serentak dengan sasaran daerah Klamono-Sorong, Kaimana dan Merauke. 132 prajurit PGT AU dipimpin Kapten Udara Radix Sudarsono diterjunkan dengan dibekali senjata G-3, 4 granat tangan, uang 600 Gulden West Nieuw Guinea, 4 kaleng makanan, sagu, beras, ponco, dua stel pakaian dinas lapangan, alat survival dan 500 butir peluru. Pada tanggal 13 Agustus 1962, pasukan diterjunkan dengan dibagi menjadi 3 sasaran yaitu peleton pertama di daerah Klamono (Selatan Sorong), peleton 2 di daerah Kladuk (Timur Sorong) dan peleton 3 di daerah Kalaili (lebih Timur lagi dari kota Sorong). Kapten Udara Radix Sudarsono diterjunkan didaerah Kladuk. Cuaca saat dilaksanakan penerjunan hukan cukup lebat dan gelap gulita. Hampir semua penerjun tersangkut diatas pohon dan penerjun mendarat secara menyebar. Pasukan berkonsolidasi setelah dua minggu bergerilya di hutan belantara dan itu pun hanya 60 % saja. Pada saat mendekati kota Klamono terlihat bendera Merah Putih dan bendera PBB dan ternyata telah terjadi gencatan senjata (ceasefire). Pasukan PGT AU yang diterjunkan di Sorong masih banyak yang belum mengetahui adanya gencatan senjata. Cara yang dilakukan untuk memberitahu pasukan yang masih berada di hutan adalah dengan mnyeberkan pamlfet. Pasukan kemudian berkumpul di sebuah rumah pada KM 12 Klasaman Sorong.

Nilai-Nilai Yang Terkandung dalam Operasi Trikora
            Clausewitz pernah berkata “Seseorang yang ingin memperoleh pengertian yang mendalam mengenai dasar-dasar perang, harus mengerti  esprit de corps.  Esprit de corps adalah semen yang merekatkan menjadi satu segala mutu yang bersama-sama memberikan nilai militer kepada suatu tentara”. Pengetahuan mengenai apa yang telah dicapai oleh sesuatu angkatan dapat memainkan peranan yang penting di dalam perkembangan esprit de corps-nya. Berangkat dari hal tersebut maka mengetahui perjalanan kepahlawanan para senior menjadi sangat penting untuk tetap menjaga esprit de corps.
Menyingkapi kepahlawanan para prajurit PGT AU dalam melaksanakan Operasi Trikora sungguh sangat penting untuk diambil nilai dan maknanya bagi para penerus. Nilai Patriotisme dalam membela bangsa dan negara sungguh sangat tepat diberikan kepada mereka. Patriotisme berangkat dari nilai-nilai yang sudah terkandung dalam sikap bangsa Indonesia terhadap tanah airnya. Patriotisme sudah mengemuka sejak kisah-kisah kepahlawan bangsa atau bagian dari bangsa yang berwujud perlawanan fisik bersenjata, bahkan perlawanan dengan kekuatan berpikir terhadap pihak-pihak yang ingin menguasai dan memaksakan kehendak kepada eksistensi bangsa Indonesia. Kisah-kisah kepahlawanan PGT AU dalam Opersi Trikora telah memberikan suatu pelajaran penting tentang kepribadian dan karakter bangsa dalam menumbuhkembangkan sikap cinta tanah air
Sikap cinta tanah air berhubungan erat dengan keindahan karena tidak ada cinta tanpa hadirnya suatu keindahan. Jika tanah air dicintai maka tanah air itu adalah keindahan. Keindahan dapat membebaskan manusia dari energi besar yang menghimpit dirinya dan menghubungkan manusia dengan minat dan cita tertingginya. semakin ingin memperindah tanah air akan semakin dibutuhkan karya-karya unggul dan cemerlang dari setiap warga negara. Karya yang unggul dan cemerlang dapat dihasilkan dengan suatu kekuatan dan kemampuan. Oleh karena itu, kekuatan dan kecintaan kepada tanah air sangat diharapkan untuk dimiliki oleh setiap warga negara yang ingin disebut patriot. Sapta Marga menyebutkan bahwa prajurit merupakan patriot pendukung serta pembela ideologi negara yang bersendikan Pancasila. Hal tersebut telah diaplikasikan secara total oleh para prajurit PGT AU yang gugur sebagai kusuma bangsa. Mereka adalah patriot-patriot bangsa.
Semangat membela  tanah air yang dilakukan para prajurit PGT AU dalam Opersi Trikora merupakan suatu bentuk pekerjaan yang mulia sesuai dengan semboyan Korpaskhasau ”Karmaye Vadikarate Mafalesu Kadatjana” yang artinya Bekerja tanpa menghitung untung rugi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar