Selasa, 13 Agustus 2019

KISAH HEROIK PAHLAWAN PENDIRI KOTA JAKARTA


KISAH HEROIK PAHLAWAN PENDIRI KOTA JAKARTA

oleh : Raden Bimo Wicaksono
 
Pada tahun 1610–1619 terjadi peperangan antara Pangeran Jayakarta dengan Belanda. Ketika perang berlangsung, pihak Pangeran Jayakarta berusaha tetap bertahan dari serbuan pasukan Belanda yang terus mendesak kedudukan Pangeran Jayakarta. Belanda kemudian memainkan taktik licik”-nya yaitu dengan mengepung basis pertahanan Pangeran Jayakarta. Di pihak Pangeran Jayakarta ada seorang pengikut yang tertangkap oleh Belanda, kemudian dia terpaksa memberitahukan kelemahan yang dimiliki oleh Pangeran Ahmad Jakerta kepada kompeni Belanda. Kemudian setelah memberitahukan kelemahan tersebut, dia dibebaskan. Pada saat dia kembali ke daerahnya, masyarakat setempat menganggapnya sebagai pengkhianat karena memberitahukan kelemahan yang dimiliki oleh Pangeran Ahmad Jakerta kepada Belanda.[1]
Oleh karena itu pengikut yang dianggap pengkhianat ini, dihukum dengan cara diikatkan kakinya kemudian ditarik oleh 12 ekor kuda sampai selangkangan kaki dan kulitnya pecah. Dari kisah inilah yang oleh warga setempat menjadi awal mula terciptanya nama sebuah daerah yaitu Pecah Kulit, saat ini berlokasi di daerah Mangga Dua Jakarta Barat.
Setelah Pangeran Ahmad Jakerta berhasil menyelamatkan diri dari serangan Belanda, beliau bersama pengikutnya mencari tempat untuk memindahkan basis pertahanannya menuju ke arah timur Jakarta yang terletak di seberang Kali Sunter. Di tempat itulah Pangeran Ahmad Jakerta menyusun strategi  perang gerilya. Kemudian pada akhir tahun 1619 diresmikanlah tempat dimana Pangeran Ahmad Jakerta menetap dengan diberi nama Jatinegarayang artinya Pemerintahan Sejati.
Setelah itu untuk menjaga keselamatan anak cucu/keturunannya, maka Pangeran Ahmad Jakerta sebelum akhir hayatnya berwasiat bahwa tempat dan keadaan beliau harus dirahasiakankepada siapapun juga selama bangsa Belanda masih bercokol di Nusantara. Amanat/wasiat inilah yang selama itu dipegang teguh oleh anak/cucu keturunan beliau termasuk para sesepuh yang dahulu ada di Jatinegara Kaum (sampai sekarang).
…nama Jatinegara adalah suatu bukti nyata bahwa di daerah ini oleh Pangeran Ahmad Jakerta dijadikan basis pertahanan, tempat penyusunan kekuatan, dan tempat dimana beliau mengakhiri hidupnya ketika menghadapi dan melawan penjajah Belanda”, ujar Drs. H. R. Mayusdi, M. Si.[2]
Oleh karena itu, seandainya Pangeran Ahmad Jakerta tidak mengungsi dan memilih daerah ini, tidak mungkin nama tempat ini disebut Jatinegara Kaum yang menjadi tempat makam Pangeran Ahmad Jakerta dan berdirinya sebuah masjid bersejarah yaitu Masjid Assalafiah di daerah Jatinegara Kaum.
Pada tahun 1640 Pangeran Jayakarta meninggal dunia dan dimakamkan di dekat Masjid Assalafiyah bersama puteranya Pangeran Lahut serta keluarganya, yaitu Pangeran Sageri yang merupakan putera dari Sultan Ageng Tirtayasa. Lalu Pangeran Sageri memperistri putri dari Pangeran Sangiyang, yaitu Ratu Rafiah serta Pangeran Suria, putra dari Pangeran Padmanegara yang melanjutkan perjuangan ayahnya.
Sebagai sosok pejuang yang melawan Belanda di Jakarta, Pangeran Jayakarta telah resmi diakui sebagai salah seorang pahlawan pendiri Kota Jakarta. Oleh karena itu, sudah menjadi sebuah tradisi bagi setiap gubernur DKI Jakarta untuk melaksanakan upacara ziarah tabur bunga makam sebagai bentuk penghormatan kepada Pangeran Jayakarta ketika menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) Ibu Kota Jakarta. Selain itu, makam tersebut juga dijadikan sebagai program ziarah tahunan yang dilakukan oleh pihak TNI Angkatan Darat khususnya pada saat HUT Kodam Jayakarta setiap tanggal 24 Desember.
Sebelum membahas siapa sosok Pangeran Ahmad Djakerta, penyebutan nama Ahmad Djakerta, Ahmad Jakerta dan Pangeran Jayakarta adalah orang yang sama. Hal ini sesuai dengan bukti-bukti historis dan otentik yaitu data silsilah dan sumber lisan melalui wawancara dengan keturunan atau keluarga dari Pangeran Jayakarta yang masih hidup sampai saat ini.
Pangeran Ahmad Djakerta Jayakarta adalah putra Pangeran Sungerasa Djajawikarta/Aria Tengah dan juga cucu dari Ratu Bagus Angke, yang merupakan bangsawan asal Banten. Ratu Bagus Angke alias Sultan Maulana Hasanuddin adalah menantu Fatahillah atau Falatehan (Sunan Gunung Jati/Syarif Hidayatullah), peletak dasar Kesultanan Cirebon dan Banten.[3]
Pangeran Ahmad Djakerta meneruskan perjuangan ayahnya dalam melawan Kompeni Belanda setelah ayahnya tersebut memenuhi panggilan Sultan Banten pada bulan Februari 1619. Penyebab pemanggilan itu karena Pangeran Sungerasa Djajawikarta, ayah dari Pangeran Ahmad Jakerta, dianggap bersepakat dengan Inggris dan menjalankan tindakan serta penyelewengan tanpa seizin Sultan Banten. Hal ini jelas merupakan siasat adu domba Belanda agar kekuasaan di Jayakarta melemah.
Djayakarta atau Jayakarta bukanlah sebutan nama orang, melainkan sebuah nama tempat yang berasal dari aslinya yaitu “Sunda Kelapa”. Penggantian nama dari Sunda Kelapa menjadi nama Jayakarta dilakukan setelah Fatahillah berhasil merebutnya dari kekuasaan Kerajaan Padjajaran dan penjajah Portugis.
Bagi keluarga besar Jatinegara Kaum, terlepas dari pandangan orang awam, secara umum yang dimaksud dengan Pangeran Djajakarta/Jayakarta satu-satunya sangat diyakini dan dipercaya adalah Pangeran Ahmad Jakerta yang juga telah dikenal masyarakat. Perjuangan Pangeran Ahmad Jakerta bukanlah perjuangan untuk kepentingan pribadi, akan tetapi perjuangan untuk membela kepentingan masyarakat dalam menentang penjajahan Belanda. Wilayah Jatinegara Kaum juga menjadi saksi bisu dari sebuah rangkaian kisah perjalanan perjuangan Pangeran Jayakarta dan tetap menjadi sebuah keyakinan berdasarkan bukti-bukti historis yang dapat dipertanggungjawabkan serta sumber lisan dari keturunannya yang masih ada hingga saat ini.
Sejarah Pangeran Ahmad Jakerta (Djayakarta/Jayakarta) memiliki hubungan erat dengan peninggalan benda-benda bersejarah yang sampai saat ini masih tetap terjaga kelestariannya seperti Masjid Assalafiyah dan Makam Pangeran Ahmad Jakerta. Selain itu barang-barang pusaka warisan peninggalan sejarah dari Pangeran Ahmad Jakerta (Jayakarta), merupakan bukti bahwa beliau mempunyai sisi “kekuatan heroik”, yang disimbolkan oleh dua buah tombak yaitu Biring Lanang dan Biring Galih.
Oleh karena itu, dapat kita ambil makna dan nilai kepahlawanan bagaimana seorang Pangeran Ahmad Jakerta yang berjasa sangat besar dalam meletakkan pondasi dasar  awal terbentuknya Kota Jakarta khususnya daerah Jatinegara Kaum tempat dimana Pangeran Jayakarta menetap selama menghadapi dan melawan penjajah serta memperjuangkan syiar agama Islam yang diajarkan sampai akhir hayatnya.


[1]Arsip Rukun Warga Pangeran Ahmad Jakerta, “Peranan Perdjuangan Pangeran Ahmad Jakerta dan Pengaruhnya terhadap Perkembangan Islam di Djakarta”, Panitia Ad Hock Sedjarah Pangeran Ahmad Jakerta, April 1972, hlm. 13.
[2]Sumber lisan wawancara dengan Drs. H. R. Mayusdi, M. Si, salah satu ahli waris keturunan ke 9 dari Pangeran Ahmad Jakerta (Jayakarta) pada tanggal 21 Juni 2019,pukul 17.15
[3]Arsip Rukun Warga Pangeran Ahmad Jakerta, “Peranan Perdjuangan Pangeran Ahmad Jakerta dan Pengaruhnya terhadap Perkembangan Islam di Djakarta”, Panitia Ad Hock Sedjarah Pangeran Ahmad Jakerta, April 1972, hlm. 11.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar