KISAH HEROIK PAHLAWAN PENDIRI KOTA JAKARTA
oleh : Raden Bimo Wicaksono
Pada
tahun 1610–1619 terjadi peperangan antara
Pangeran Jayakarta dengan Belanda. Ketika perang berlangsung, pihak Pangeran Jayakarta
berusaha tetap bertahan dari serbuan pasukan Belanda yang terus mendesak kedudukan
Pangeran Jayakarta. Belanda kemudian memainkan taktik “licik”-nya yaitu dengan mengepung basis pertahanan Pangeran
Jayakarta. Di pihak Pangeran Jayakarta ada seorang pengikut yang tertangkap oleh Belanda, kemudian dia terpaksa memberitahukan
kelemahan yang dimiliki oleh Pangeran Ahmad Jakerta
kepada kompeni Belanda. Kemudian setelah
memberitahukan kelemahan tersebut, dia dibebaskan. Pada saat dia kembali
ke daerahnya, masyarakat setempat menganggapnya sebagai pengkhianat karena
memberitahukan kelemahan yang dimiliki oleh Pangeran Ahmad Jakerta kepada
Belanda.[1]
Oleh karena itu
pengikut yang dianggap pengkhianat ini, dihukum dengan cara diikatkan kakinya
kemudian ditarik oleh 12 ekor kuda sampai selangkangan kaki dan kulitnya pecah.
Dari kisah inilah yang oleh warga setempat menjadi awal mula terciptanya nama sebuah
daerah yaitu Pecah Kulit, saat ini berlokasi di daerah Mangga Dua Jakarta Barat.
Setelah Pangeran Ahmad Jakerta berhasil menyelamatkan diri dari serangan Belanda, beliau
bersama pengikutnya mencari tempat untuk memindahkan basis pertahanannya menuju
ke arah timur Jakarta yang terletak di seberang Kali Sunter. Di tempat itulah
Pangeran Ahmad Jakerta menyusun strategi
perang gerilya. Kemudian pada akhir tahun 1619 diresmikanlah
tempat dimana Pangeran Ahmad Jakerta menetap dengan diberi nama “Jatinegara” yang artinya “Pemerintahan Sejati”.
Setelah itu untuk
menjaga keselamatan anak cucu/keturunannya, maka Pangeran Ahmad Jakerta sebelum
akhir hayatnya berwasiat bahwa tempat dan keadaan beliau harus “dirahasiakan” kepada siapapun
juga selama bangsa Belanda masih bercokol di Nusantara. Amanat/wasiat inilah yang selama itu dipegang teguh oleh anak/cucu keturunan
beliau termasuk para sesepuh yang dahulu ada di
Jatinegara Kaum (sampai sekarang).
“…nama Jatinegara adalah suatu bukti nyata bahwa di daerah
ini oleh Pangeran Ahmad Jakerta dijadikan basis pertahanan, tempat penyusunan
kekuatan, dan tempat dimana beliau mengakhiri hidupnya ketika menghadapi dan melawan penjajah
Belanda…”, ujar Drs. H. R. Mayusdi, M. Si.[2]
Oleh karena itu, seandainya
Pangeran Ahmad Jakerta tidak mengungsi dan memilih daerah ini, tidak mungkin
nama tempat ini disebut Jatinegara Kaum yang menjadi tempat makam Pangeran Ahmad Jakerta dan berdirinya sebuah masjid bersejarah yaitu Masjid Assalafiah di daerah
Jatinegara Kaum.
Pada tahun 1640 Pangeran Jayakarta meninggal dunia dan dimakamkan di dekat
Masjid Assalafiyah bersama puteranya Pangeran Lahut serta keluarganya, yaitu Pangeran Sageri yang merupakan
putera dari Sultan Ageng Tirtayasa. Lalu Pangeran Sageri memperistri putri dari Pangeran Sangiyang, yaitu Ratu Rafiah serta Pangeran Suria, putra dari Pangeran Padmanegara yang melanjutkan perjuangan
ayahnya.
Sebagai sosok pejuang yang melawan Belanda di Jakarta, Pangeran
Jayakarta telah resmi diakui sebagai salah seorang
pahlawan pendiri Kota Jakarta. Oleh karena itu, sudah menjadi sebuah tradisi bagi setiap gubernur DKI Jakarta untuk melaksanakan upacara
ziarah tabur bunga makam sebagai bentuk penghormatan kepada Pangeran Jayakarta ketika
menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) Ibu Kota Jakarta. Selain itu, makam tersebut juga dijadikan sebagai program ziarah
tahunan yang dilakukan oleh pihak TNI Angkatan Darat khususnya
pada saat HUT Kodam Jayakarta setiap tanggal 24 Desember.
Sebelum membahas
siapa sosok Pangeran Ahmad Djakerta, penyebutan nama
Ahmad Djakerta, Ahmad Jakerta dan Pangeran Jayakarta adalah orang yang sama.
Hal ini sesuai dengan bukti-bukti historis dan otentik yaitu data silsilah dan
sumber lisan melalui wawancara dengan keturunan atau keluarga dari Pangeran
Jayakarta yang masih hidup sampai saat ini.
Pangeran Ahmad Djakerta
Jayakarta adalah putra Pangeran Sungerasa Djajawikarta/Aria Tengah dan juga
cucu dari Ratu Bagus Angke, yang merupakan bangsawan asal Banten. Ratu Bagus
Angke alias Sultan Maulana Hasanuddin adalah
menantu Fatahillah atau Falatehan (Sunan Gunung Jati/Syarif Hidayatullah),
peletak dasar Kesultanan Cirebon dan Banten.[3]
Pangeran Ahmad Djakerta meneruskan perjuangan ayahnya
dalam melawan Kompeni Belanda setelah ayahnya tersebut memenuhi panggilan
Sultan Banten pada bulan Februari 1619. Penyebab pemanggilan itu karena
Pangeran Sungerasa Djajawikarta, ayah dari Pangeran Ahmad Jakerta, dianggap bersepakat
dengan Inggris dan menjalankan tindakan serta penyelewengan tanpa seizin Sultan
Banten. Hal ini jelas merupakan siasat adu domba Belanda agar kekuasaan di
Jayakarta melemah.
Djayakarta atau Jayakarta bukanlah sebutan nama orang, melainkan sebuah nama
tempat yang berasal dari aslinya yaitu “Sunda Kelapa”. Penggantian nama dari
Sunda Kelapa menjadi nama Jayakarta dilakukan setelah Fatahillah berhasil
merebutnya dari kekuasaan Kerajaan Padjajaran dan penjajah Portugis.
Bagi keluarga besar
Jatinegara Kaum, terlepas dari pandangan orang awam, secara umum yang dimaksud dengan “Pangeran Djajakarta/Jayakarta” satu-satunya sangat diyakini
dan dipercaya adalah Pangeran
Ahmad Jakerta yang juga telah dikenal masyarakat.
Perjuangan Pangeran Ahmad Jakerta bukanlah perjuangan untuk kepentingan
pribadi, akan tetapi perjuangan untuk membela kepentingan
masyarakat dalam menentang penjajahan Belanda. Wilayah Jatinegara Kaum juga menjadi saksi bisu dari
sebuah rangkaian kisah perjalanan perjuangan Pangeran Jayakarta dan tetap
menjadi sebuah keyakinan berdasarkan bukti-bukti historis yang dapat dipertanggungjawabkan
serta sumber lisan dari keturunannya yang masih ada hingga saat ini.
Sejarah Pangeran Ahmad Jakerta
(Djayakarta/Jayakarta) memiliki hubungan erat
dengan peninggalan benda-benda bersejarah yang sampai saat ini masih tetap
terjaga kelestariannya seperti Masjid Assalafiyah
dan Makam Pangeran Ahmad Jakerta. Selain itu
barang-barang pusaka warisan peninggalan
sejarah dari Pangeran Ahmad Jakerta (Jayakarta), merupakan bukti bahwa beliau
mempunyai sisi “kekuatan heroik”, yang disimbolkan oleh dua buah tombak yaitu
Biring Lanang dan Biring Galih.
Oleh karena itu, dapat
kita ambil makna dan nilai kepahlawanan bagaimana seorang
Pangeran Ahmad Jakerta yang berjasa sangat besar dalam meletakkan pondasi dasar awal terbentuknya Kota Jakarta khususnya daerah Jatinegara Kaum tempat dimana
Pangeran Jayakarta menetap selama menghadapi dan melawan penjajah serta memperjuangkan
syiar agama Islam yang diajarkan sampai akhir hayatnya.
[1]Arsip
Rukun Warga Pangeran Ahmad Jakerta, “Peranan Perdjuangan Pangeran Ahmad Jakerta
dan Pengaruhnya terhadap Perkembangan Islam di Djakarta”, Panitia Ad Hock
Sedjarah Pangeran Ahmad Jakerta, April 1972, hlm. 13.
[2]Sumber
lisan wawancara dengan Drs. H. R. Mayusdi, M. Si, salah satu ahli waris
keturunan ke 9 dari Pangeran Ahmad Jakerta (Jayakarta) pada tanggal 21 Juni 2019,pukul 17.15
[3]Arsip
Rukun Warga Pangeran Ahmad Jakerta, “Peranan Perdjuangan Pangeran Ahmad Jakerta
dan Pengaruhnya terhadap Perkembangan Islam di Djakarta”, Panitia Ad Hock
Sedjarah Pangeran Ahmad Jakerta, April 1972, hlm. 11.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar