Senin, 18 November 2019

“POES CRAFT”, SANG MAESTRO KERAJINAN TANGAN YANG MENDUNIA


“POES CRAFT”, SANG MAESTRO KERAJINAN TANGAN
YANG MENDUNIA
Oleh Raden Bimo Wicaksono

Meski berbisnis kerajinan tangan (handicraft) masih awam dan jarang bagi orang-orang yang menjalaninya di Indonesia khususnya Jakarta, ternyata bisnis ini cukup menguntungkan bagi orang-orang yang menekuni. Handicraft sendiri merupakan sebuah kegiatan seni yang menitikberatkan kepada keterampilan tangan dan fungsi untuk mengolah bahan baku menjadi benda-benda yang tidak hanya bernilai pakai tetapi juga bernilai estetis. Handicraft ini bisa berasal atau terbuat dari bahan dasar yaitu tanah, batu, kain, logam, kayu, dan sebagainya. Meski tergolong baru, berbisnis ini apabila ditekuni akan menghasilkan banyak uang. Apalagi bagi mereka yang memiliki hobi yang berkaitan dengan karya seni.
Pagi yang cerah di hari Jumat berkah, sebuah rumah minimalis berlantai dua dilengkapi berbagai ornamen hiasan dinding rumah yang unik menandakan kreatifitas yang berkualitas dan dilengkapi oleh pemandangan penghijauan halaman rumah yang teduh. Sosok seorang ibu berpenampilan sederhana dengan senyuman ramah menyambut kami untuk berdiskusi tentang kerajinan tangan (craft). Ibu tersebut bernama Ratih Puspitawati. Beliau merupakan salah satu dari 21 orang nominasi Ibu Ibukota Awards Tahun 2019.
Beliau adalah pendiri dan perintis usaha kerajinan tangan yang disebut “Poes Craft”. Kisah beliau dalam menjalani dan membangun Poes Craft ini cukup panjang. “kerajinan Poes Craft ini awalnya dari sebuah hobi saya yang senang membuat sesuatu benda, seperti dari bahan bahan batu dan payet yang dirangkai menggunakan kawat atau semacamnya menjadi bentuk kalung, gelang, dan sebagainya”, ujar Ibu Ratih mengawali diskusi. Nama Poes Craft diambil dari nama belakang beliau yaitu Puspitawati, menjadi unik dan agar mudah diingat oleh orang-orang yang nantinya akan mengagumi karya-karya beliau.
Sebagaimana lazimnya sebuah usaha, beliau mencoba membangun Poes Craft dengan modal awal yang tidak banyak. “saat tahun 2002 itu, saya mempunyai modal awal sekitar Rp 200.000 dan kemudian saya mencoba menjalaninya dengan sabar dan tekun hingga berhasil sukses sampai saat ini”, ujar Ibu Ratih sambil menunjukkan karya handicraft pertama kali yang beliau ciptakan. Ibu Ratih tidak sendiri dalam merintis usaha Poes Craft ini. Pada awalnya beliau dibantu oleh asisten rumah tangganya sebanyak 2 (dua) orang. “Mereka membantu saya setelah selesai melaksanakan pekerjaan rumah yaitu antara pukul 10.00 sampai dengan pukul 14.00, jadi bisa sambil mengisi waktu luang di rumah, Mas”, terangnya. Seiring berjalannya waktu selama 7 tahun, beliau telah memiliki karyawan sebanyak 30 orang dan faktor yang cukup berpengaruh adalah tergantung dari jumlah pesanan barang (craft), jika semakin banyak pesanan yang diajukan maka jumlah karyawan akan disesuaikan sehingga pesanan dapat segera diselesaikan. “Kita harus mengutamakan pemesan dengan pelayanan terbaik karena sesuai dengan pepatah klasik yang menyatakan bahwa pembeli adalah raja”, ujar Ibu Ratih.
Momentum yang cukup menarik dan sangat berpengaruh terhadap kesuksesan usaha Poes Craft yang telah dirintisnya adalah ketika 13 tahun yang lalu, yaitu sekitar bulan Mei tahun 2007, beliau mendapatkan pesanan craft dari Butik Safira. Jumlah pesanan yang diajukan sekitar ribuan dari berbagai jenis barang craft hasil kreasi beliau. Tentu hal ini membuat Ibu Ratih sangat bersyukur dan menjadi sebuah pengalaman yang berkesan. “Coba Mas, bayangkan, mendapat pesanan dari butik terkenal seperti Safira jumlahnya ribuan, itu bisa kebayang kan seperti apa. Pesanan tersebut tidak langsung saya jawab karena saat itu saya sedang masa perawatan dan kira-kira pada tanggal 13 Juni 2007, saya baru selesai operasi kanker dan kemudian atas doa restu dan dukungan dari suami tercintanya, saya menyanggupi dan menyelesaikan pesanan dari butik Safira, itu pengalaman yang bener-bener gak terlupakan, Mas”, ungkap Ibu Ratih sambil memperlihatkan album dokumentasi dari butik Safira. Matanya berkaca-kaca dan beliau terharu mengenang peristiwa tersebut. Beliau kembali bercerita, “Butik Safira saat itu adalah brand yang sangat terkenal dan saya tidak menyangka bahwa butik Safira ingin karya Poes Craft saya menjadi produk yang berada di etalase butiknya”.
Poes Craft ini secara konsep dasarnya adalah produk kerajinan tangan (handicraft atau handmade) yang membutuhkan kreatifitas, inovasi, dan “sentuhan ajaib” – disebut juga ketekunan atau ketelatenan jari jemari tangan dalam membuat produk – dari sang maestro pembuatnya. Ibu Ratih sebagai owner pun selalu memikirkan dan merancang bagaimana agar produk yang dihasilkan akan diminati oleh pembeli atau konsumennya. Bahan baku utama dari produk Poes Craft ini adalah batu dan payet. Beliau berkata, “pembuatan produk Poes Craft ini ditentukan oleh kualitas bahan baku, bahkan jika memang diperlukan memakai bahan baku yang tidak ada di sini dan harus diimpor dari luar negeri, tentu saya akan mendatangkannya. Kualitas bahan baku yang baik maka akan menghasilkan produk terbaik”.
Ibu Ratih  juga merancang pemasaran produk Poes Craft ini menjadi sebuah sistem yang tertata dengan baik. Beliau mempunyai tim yang terdiri dari koordinator dan perajin. Sebagai contoh ketika ada sebuah pesanan craft tertentu kemudian beliau merancang konsep, bahan baku apa yang dipakai dan tema apa yang cocok untuk pesanan craft tersebut. Setelah itu pada tahap berikutnya adalah beliau melakukan belanja bahan baku. Bahan baku ini terdiri dari 3 (tiga) kelompok besar yaitu kawat/wire/beading; payet/beading payet; dan fabrics/kain-kain. Bahan baku ini terkadang ada yang sulit diperoleh, bahkan sampai harus ke luar negeri, beliau pun akan mencari bahan baku tersebut. “pernah saya saking niatnya untuk impor dari negara Jepang dan Eropa karena bahan baku itu jarang ada di sini, Mas”, ungkap beliau. Setelah tahap belanja bahan baku, kemudian beliau melakukan koordinasi dengan para koordinator untuk persiapan proses pembuatan produk craft, termasuk pematangan konsep, desain, dan tema. Ketika tahapan koordinasi telah dilakukan, koordinator menugaskan para perajin untuk membuat pesanan hingga selesai menjadi produk Poes Craft.
Beliau bercerita, “dalam mengerjakan pesanan ini, kendala yang dihadapi salah satunya yaitu desain. Kalau ditanya kenapa, yaa karena saya belum bisa untuk membuat desain sendiri yang sesuai dengan kemauan saya. Desain dan tema masih menggunakan berbagai referensi baik dari dunia fashion maupun literatur seni lainnya. Itulah yang menjadi tantangan bagi saya untuk nantinya bisa menciptakan desain sesuai keinginan saya, mimpi itu masih ada sampai sekarang dan akan saya wujudkan”. Selanjutnya beliau juga mengatakan banyak suka dan duka yang telah dilalui selama merintis dan membangun usaha Poes Craft ini. “kalau Mas bertanya antara suka dan duka, yaa lebih banyak sukanya, karena saya memegang prinsip bahwa yakinlah pertolongan Allah itu pasti selalu ada ketika kita sedang menghadapi kesulitan, hadapi dengan kesabaran, ketekunan, semangat, rasa ikhlas, dan yakin semua akan ada solusinya”.
Sampai sekarang karyawan yang bekerja sebanyak 15 orang dan dalam satu bulan dapat menghasilkan karya craft sekitar 100 sampai 500 produk tergantung dari tingkat kesulitan pembuatannya. “Alhamdulillah, Mas sampai sekarang Poes Craft ini bisa menjadi inspirasi dan sumber pekerjaan bagi warga sekitar, banyak yang belajar di galeri saya untuk kemudian diterapkan menjadi sebuah karya seni handicraft yang bagus dan berkualitas sehingga bisa meningkatkan potensi diri yang dimiliki”, ujar beliau sambil memperkenalkan beberapa orang karyawannya.
Pemasaran produk Poes Craft sampai saat ini masih terbatas pada 3 (tiga) segmen yaitu komunitas (grup-grup arisan, organisasi tertentu, dan lain-lain); secara online melalui sarana belanja online atau media sosial (instagram, facebook, website/blogspot, dan sebagainya); dan melalui pameran yang pernah beliau ikuti baik di dalam negeri maupun level internasional misalnya seperti Handmade Korean Fair Seoul 2018, INACRAFT 2018, TELKOMCRAFT Indonesia 2018, Gelar Batik Nusantara Tahun 2017, Jakarta International Handicraft Trade Fair 2017, dan masih banyak pameran lainnya. Beliau bercerita, “Alhamdulillah Mas, Poes Craft ini untuk pertama kali go international-nya itu sekitar tahun 2013 yaitu mengikuti sebuah pameran di Den Haag, Belanda, dan sampai sekarang sudah sebanyak 9 (sembilan) negara yang saya kunjungi untuk mencoba memperkenalkan produk Poes Craft yaitu Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Vietnam, Jepang, Rusia, Korea Selatan, Thailand, dan Belanda. Semua itu adalah karunia dari Allah Yang Maha Kuasa dan saya selalu bersyukur untuk itu semua”.
Ibu Ratih juga berpendapat mengenai perkembangan usaha kerajinan tangan (handicraft/handmade) di Indonesia khususnya wilayah Jakarta. Beliau berkata, “kerajinan tangan seperti yang saya telah lakukan sampai saat ini menjadi sebuah contoh bahwa kualitas dari produk yang dihasilkan adalah sudah sangat baik bahkan terbaik. Banyak pengusaha kerajinan tangan yang memiliki kreatifitas, inovasi, bahkan ide-ide pemikiran yang diwujudkan dalam karya-karyanya telah mewarnai dunia usaha kerajinan. Saran saya adalah agar para pengusaha kerajinan ini difasilitasi lebih baik lagi oleh pemerintah dalam rangka upaya pengembangan produk kerajinan sehingga bisa menembus level internasional melalui sarana seperti pameran, event pertukaran budaya, dan sebagainya”.
Harapan dan impian yang ingin diwujudkan oleh Ibu Ratih sebagai seorang ibu dan juga aktor penggerak kaum perempuan bagi lingkungan di sekitarnya yaitu para perempuan bisa mengoptimalkan kemampuannya dengan berkarya (produktif dalam menghasilkan sebuah produk) di rumah, tidak harus bekerja di kantor, atau dimanapun sambil mendampingi perkembangan tumbuh kembang anak sehingga dapat meningkatkan penghasilan rumah tangga. “Apabila penghasilan rumah tangga meningkat maka kesejahteraannya pasti akan meningkat”, ujar beliau mengakhiri diskusi yang sangat berkesan dan menginspirasi.
Demikian artikel mengenai kisah Ibu Ratih Puspitawati, seorang ibu yang tangguh, pantang menyerah, kreatif, dan inovatif, serta menjadi sumber inspirasi bagi orang-orang di lingkungan sekitarnya dan menjadi penggerak kaum perempuan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki menjadi sebuah karya yang produktif. Teruskan perjuangan dan pengabdianmu Ibu Ratih untuk mengharumkan Jakarta dan Indonesia di dunia internasional.
“Ikuti cerita #AksiHidupBaik lainnya di akun Youtube dan Instagram @Ibu.Ibukota

Rabu, 09 Oktober 2019

Pasukan “Pelangi Oranye” Kebanggaan Jakarta : Penjaga Air di Bumi Pondok Bambu


Air merupakan salah satu dari sumber daya alam yang sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup terutama manusia. Tanpa air, makhluk hidup tidak dapat bertahan hidup. Manusia sebagai makhluk hidup dapat hidup beberapa hari tanpa adanya makanan, tetapi manusia tidak akan bertahan jika tidak adanya air. Hal tersebut dikarenakan sekitar 73 % zat pembentuk tubuh manusia adalah air. Hal tersebut menggambarkan betapa pentingnya air bagi manusia.
Seiring berjalannya waktu, persediaan air bersih khususnya di wilayah DKI Jakarta yang mayoritas merupakan pemukiman padat penduduk semakin berkurang dan kalau tidak dilakukan penanganan secara serius dan berkelanjutan terhadap pengelolaan air, persediaan air semakin lama akan semakin cepat habis. Pada tulisan ini, penulis mencoba untuk memberikan gambaran sekilas pengalaman yang telah dilakukan dalam rangka upaya pengelolaan air untuk menjaga ketersediaan air khususnya di wilayah tempat bekerja yaitu PPSU Kelurahan Pondok Bambu.
Penanganan Prasarana dan Sarana Umum Tingkat Kelurahan yang disingkat PPSU Tingkat Kelurahan adalah pekerjaan yang perlu segera dilakukan dan tidak dapat ditunda karena dapat mengakibatkan kerugian, bahaya dan mengganggu kepentingan publik/masyarakat di wilayah Kelurahan dan dalam rangka mempercepat berfungsinya lokasi/prasarana dan sarana/aset publik maupun aset daerah yang rusak, kotor dan/atau mengganggu sesuai dengan peruntukkannya. “Sumber: Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 7 Tahun 2017 tentang Penanganan Prasarana dan Sarana Umum Tingkat Kelurahan https://jdih.jakarta.go.id/himpunan/produkhukum_detail/7573 “.
Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) atau sering juga dijuluki dengan sebutan “Pasukan Pelangi” atau “Pasukan Oranye”. Kegiatan PPSU setiap harinya menangani permasalahan yang ada di wilayah kelurahan dengan cakupan ruang lingkup kerjanya secara spesifik yaitu penanganan prasarana dan sarana jalan; kebersihan; saluran; taman; dan penerangan jalan umum di wilayah RT/RW. Sebagian besar pelaksanaan kegiatan kewilayahan yang kami lakukan adalah berkaitan dengan saluran air karena memiliki cukup banyak saluran air dan sungai/kali yang memiliki karakteristik tertentu.
Kelurahan Pondok Bambu merupakan salah satu dari 7 (tujuh) kelurahan di wilayah Kecamatan Duren Sawit Kota Administrasi Jakarta Timur Provinsi DKI Jakarta terdiri dari 13 RW dan 182 RT dengan wilayah seluas kurang lebih 489,7 hektar yang memiliki petugas PPSU sebanyak 103 orang. Kondisi wilayah cukup unik karena dilalui oleh saluran air/kali yang dikenal dengan sebutan Kanal Banjir Timur (KBT) dan juga dilintasi oleh jalan layang non tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) di sepanjang Jalan Raya Kalimalang RW.012 Kelurahan Pondok Bambu.
Kami sebagai “Pasukan Oranye” PPSU Kelurahan Pondok Bambu, salah satu dari Pasukan Pelangi Kebanggaan Jakarta, juga berupaya melakukan langkah-langkah pengelolaan air Jakarta khususnya di wilayah Pondok Bambu. Upaya tersebut antara lain membuat sumur resapan dan lubang resapan biopori. Berikut ini kami akan mencoba menjelaskan upaya pengelolaan air sesuai yang kami telah lakukan sampai saat ini.
Biopori merupakan ruang atau pori dalam tanah yang dibentuk oleh makhluk hidup, seperti mikroorganisme tanah dan akar tanaman. Bentuk biopori menyerupai liang (terowongan kecil) di dalam tanah dan bercabang-cabang dan sangat efektif untuk menyalurkan air dan udara ke dalam tanah. Liang pori terbentuk oleh adanya pertumbuhan dan perkembangan akar tanaman, serta aktivitas fauna tanah seperti cacing tanah, rayap dan semut di dalam tanah.
Manfaat Lubang Resapan Biopori
Pembuatan biopori juga memiliki tujuan agar kita memperoleh manfaat. Berikut ini ada empat manfaat yang kita dapatkan jika membuat lubang resapan biopori di halaman rumah yaitu :
1. Mengurangi Sampah Organik
Pembuatan lubang resapan biopori dapat mengurangi sampah organik dari rumah kita ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Karena, ketika kita membuat lubang, salah satu proses yang harus dilakukan adalah memasukkan sampah organik. Selain mengurangi sampah organik yang akan dibuang ke TPA, pembuatan biopori juga akan membuat masyarakat biasa memilah antara sampah organik dan anorganik.
2. Menyuburkan Tanah
Ketika kita memasukkan sampah organik ke dalam lubang, akan terjadi proses biologis yang akan menjadikan sampah tersebut menjadi pupuk kompos. Dengan terbentuknya pupuk kompos di dalam lubang, tentu akan membuat tanah menjadi lebih subur.
3. Membantu Mencegah Terjadinya Banjir
Saat ini, banjir sering terjadi entah itu di kota atau di kampung, dan salah satu penyebabnya adalah sistem drainase yang tidak baik. Biasanya di daerah padat penduduk drainasenya buruk karena kurangnya daya serap air oleh tanah. Dengan membuat lubang resapan biopori, dapat membantu air untuk segera masuk ke dalam tanah. Selain itu, sampah organik yang ada di dalam lubang merupakan makanan dari cacing tanah. Cacing yang masuk ke dalam lubang akan membuat terowongan-terowongan kecil di dalam tanah ketika menuju ke lubang yang berisi sampah organik. Hal ini tentu akan membuat air lebih cepat meresap ke dalam tanah.


4. Mempengaruhi Jumlah Air Tanah
Terowongan-terowongan kecil yang dibuat oleh cacing tanah akan meningkatkan luas permukaan tanah. Hal ini tentu akan membuat kapasitas tanah untuk menampung air menjadi meningkat. Bahkan, lubang resapan biopori ini mampu meningkatkan luas bidang resapan menjadi 40 kali lipat. “Sumber: http://sda.pu.go.id/bwssulawesi2/cara-membuat-biopori/
Kegiatan pembuatan Lubang Resapan Biopori sejalan dengan program “Gerakan Sejuta Lubang Biopori” yang dicanangkan oleh Walikota Kota Administrasi Jakarta Timur melalui Instruksi Walikota Kota Administrasi Jakarta Timur Nomor 45 Tahun 2018. Pada bulan Januari sampai sekarang telah dilaksanakan kegiatan pembuatan lubang resapan biopori oleh warga masyarakat bersama petugas PPSU antara lain di lahan pemukiman warga RT.009/RW.01; area Taman Bambu Kuning wilayah RW.08; area lingkungan Masjid Al-Hidayah Komplek Pondok Bambu Asri RW.09 dan halaman sekolah Strada Van Lith RW.011 Kelurahan Pondok Bambu. Teknologi dan peralatan yang kami gunakan masih cukup sederhana yaitu menggunakan mesin bor dan pipa paralon namun tetap mengacu pada standar pembuatan lubang resapan biopori. Kami juga sangat bersyukur bahwa warga masyarakat Pondok Bambu sangat responsif mendukung program tersebut dan turut serta berperan aktif sehingga kontribusi upaya pengelolaan air dapat terlaksana dan masyarakat tidak khawatir terhadap persediaan air ketika menghadapi musim kemarau.
Sampai saat ini kami sebagai Pasukan Oranye (PPSU) terus melakukan inovasi program pembuatan lubang resapan biopori yang didukung melalui sumber-sumber informasi digital sebagai bahan referensi ilmu oleh beberapa orang kawan PPSU kami; pengurus RT/RW; anggota Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK); dan Karang Taruna yang menguasai teknologi informasi (TI) melalui sarana media sosial (youtube, facebook, twitter, dan instagram) serta melakukan sosialisasi kepada masyarakat di lingkungan RT/RW terkait upaya pengelolaan air. Hal ini merupakan wujud sinergitas antara kami sebagai abdi negara pelayan masyarakat dengan unsur masyarakat khususnya di wilayah RT/RW Kelurahan Pondok Bambu Kecamatan Duren Sawit Kota Administrasi Jakarta Timur.
Selain itu kami juga melakukan sharing konsultasi dan koordinasi dengan kawan-kawan dari Satuan Pelaksana Lingkungan Hidup Kecamatan Duren Sawit Kota Administrasi Jakarta Timur melalui para petugas PJLP Oranye-nya terkait bagaimana pengalaman upaya pengelolaan air yang telah dilakukan serta langkah-langkah pengelolaan air dengan cara pembuatan lubang resapan biopori. Hal ini dikarenakan pasukan “oranye”, sebutan sama karena seragam/pakaian kerja yang digunakan juga berwarna sama dengan yang dipakai oleh petugas PPSU, tersebut sudah ada dan mempunyai pengalaman cukup lama jauh sebelum PPSU terbentuk sehingga kami memandang sangat perlu untuk mendapatkan bimbingan dan arahan lebih lanjut.
Kita dapat membayangkan apabila setiap rumah, kantor, taman lingkungan, dan/atau setiap gedung atau bangunan di wilayah Pondok Bambu memiliki lubang resapan biopori berarti jumlah air yang akan masuk ke dalam tanah tentu akan bertambah banyak dan mencegah terjadinya banjir ketika musim hujan serta menampung persediaan air ketika terjadi musim kemarau. Kemudian ketersediaan ruang terbuka hijau yang semakin berkurang juga menyebabkan berkurangnya permukaan yang dapat meresapkan air ke dalam tanah di kawasan permukiman penduduk sehingga dengan adanya lubang resapan biopori dapat menjadi alternatif solusi dari kurangnya jumlah ruang terbuka hijau dalam rangka upaya pengelolaan air.
Sementara itu langkah pengelolaan air lainnya adalah pembuatan sumur resapan air. Sumur Resapan adalah sistem resapan buatan yang dapat menampung dan meresapkan air ke dalam tanah yang bersumber dari air hujan maupun air bekas wudhu, air condenser (pendingian ruangan/AC) maupun air Iimbah lainnya yang telah dilakukan pengolahan sesuai dengan baku mutu air yang dipersyaratkan oleh peraturan perundang-undangan, yang dapat berbentuk sumur, kolam, saluran atau bidang resapan. “Sumber : Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 20 Tahun 2013 tentang Sumur Resapan https://jdih.jakarta.go.id/himpunan/produkhukum_detail/2783”.
Pembuatan sumur resapan air di wilayah Kelurahan Pondok Bambu sudah dilaksanakan dengan cukup baik dan tersebar di setiap lokasi RT/RW. Masyarakat yang akan melakukan pembangunan sebuah rumah tinggal dan pemilik sebuah gedung/kantor ketika melakukan pengurusan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) melalui mekanisme prosedur perizinan di Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Kelurahan, sejalan dengan itu mereka juga membuat sumur resapan air. Selain itu sumur resapan air yang telah dibuat oleh pihak pemerintah juga kondisinya masih terawat dengan baik, antara lain sumur resapan oleh Dinas Perindustrian dan Energi Provinsi DKI Jakarta yang berlokasi di Jl. Bambu Ori I RT.001/RW.011 dan di area penghijauan lingkungan kantor Kelurahan Pondok Bambu.
Berdasarkan pembahasan di atas, upaya yang telah dilakukan dalam rangka pengelolaan air di wilayah Provinsi DKI Jakarta, sebagai salah satu kota besar di Indonesia dalam hal ini khususnya di wilayah Kelurahan Pondok Bambu, bahwa peran dari kami sebagai Petugas PPSU Kelurahan Pondok Bambu sangat penting untuk mencoba menangani permasalahan pengelolaan air. Langkah tersebut dilakukan dengan 2 (dua) cara yaitu pembuatan lubang resapan biopori dan sumur resapan air. Sampai saat ini kami akan terus mengembangkan berbagai cara dan inovasi dalam rangka upaya pengelolaan air agar ketersediaan air khususnya di wilayah kami tetap terjaga dengan baik serta tetap menjaga sinergitas dengan semua pihak sehingga manfaatnya akan dirasakan oleh masyarakat. Kalau bukan dimulai dari kita, siapa lagi ?

Sabtu, 17 Agustus 2019

103 Petugas PPSU Gelar Upacara HUT Kemerdekaan di Pondok Bambu


Sebanyak 103 anggota Penanganam Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) berseragam orange turut menyemarakkan pelaksanaan upacara HUT Kemerdekaan ke-74 RI di halaman Kantor Kelurahan Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur.
 
Seluruh rangkaian upacara HUT Kemerdekaan ke-74 RI tersebut dilakukan oleh petugas PPSU. Mukhlis (31), Ika Kurniati (34) dan Indra (28) bertindak sebagai pengibar bendera merah putih.
Selanjutnya Raden Bimo Wicaksono (34) bertindak sebagai pembina upacara.
 
"Latihan upacara HUT Kemerdekaan ini sudah dipersiapkan sejak seminggu lalu, dan upacaranya dilaksanakan dengan antusias serta berjalan lancar dan baik," ungkapnya,  Sabtu (17/8).
Sementara, Lurah Pondok Bambu, Angga Sastra Amidjaya menjelaskan, pelaksanaan upacara oleh PPSU ini rutin dilakukan setiap tahunnya.
"Saya berikan apresiasi pada seluruh anggota PPSU Pondok Bambu atas suksesnya pelaksanaan upacara HUT RI ini," tandasnya. 

dikutip dari sumber :
http://www.beritajakarta.id/read/71289/103-petugas-ppsu-gelar-upacara-hut-kemerdekaan-di-pondok-bambu#.XVfBG0eyTIU

Selasa, 13 Agustus 2019

KISAH HEROIK PAHLAWAN PENDIRI KOTA JAKARTA


KISAH HEROIK PAHLAWAN PENDIRI KOTA JAKARTA

oleh : Raden Bimo Wicaksono
 
Pada tahun 1610–1619 terjadi peperangan antara Pangeran Jayakarta dengan Belanda. Ketika perang berlangsung, pihak Pangeran Jayakarta berusaha tetap bertahan dari serbuan pasukan Belanda yang terus mendesak kedudukan Pangeran Jayakarta. Belanda kemudian memainkan taktik licik”-nya yaitu dengan mengepung basis pertahanan Pangeran Jayakarta. Di pihak Pangeran Jayakarta ada seorang pengikut yang tertangkap oleh Belanda, kemudian dia terpaksa memberitahukan kelemahan yang dimiliki oleh Pangeran Ahmad Jakerta kepada kompeni Belanda. Kemudian setelah memberitahukan kelemahan tersebut, dia dibebaskan. Pada saat dia kembali ke daerahnya, masyarakat setempat menganggapnya sebagai pengkhianat karena memberitahukan kelemahan yang dimiliki oleh Pangeran Ahmad Jakerta kepada Belanda.[1]
Oleh karena itu pengikut yang dianggap pengkhianat ini, dihukum dengan cara diikatkan kakinya kemudian ditarik oleh 12 ekor kuda sampai selangkangan kaki dan kulitnya pecah. Dari kisah inilah yang oleh warga setempat menjadi awal mula terciptanya nama sebuah daerah yaitu Pecah Kulit, saat ini berlokasi di daerah Mangga Dua Jakarta Barat.
Setelah Pangeran Ahmad Jakerta berhasil menyelamatkan diri dari serangan Belanda, beliau bersama pengikutnya mencari tempat untuk memindahkan basis pertahanannya menuju ke arah timur Jakarta yang terletak di seberang Kali Sunter. Di tempat itulah Pangeran Ahmad Jakerta menyusun strategi  perang gerilya. Kemudian pada akhir tahun 1619 diresmikanlah tempat dimana Pangeran Ahmad Jakerta menetap dengan diberi nama Jatinegarayang artinya Pemerintahan Sejati.
Setelah itu untuk menjaga keselamatan anak cucu/keturunannya, maka Pangeran Ahmad Jakerta sebelum akhir hayatnya berwasiat bahwa tempat dan keadaan beliau harus dirahasiakankepada siapapun juga selama bangsa Belanda masih bercokol di Nusantara. Amanat/wasiat inilah yang selama itu dipegang teguh oleh anak/cucu keturunan beliau termasuk para sesepuh yang dahulu ada di Jatinegara Kaum (sampai sekarang).
…nama Jatinegara adalah suatu bukti nyata bahwa di daerah ini oleh Pangeran Ahmad Jakerta dijadikan basis pertahanan, tempat penyusunan kekuatan, dan tempat dimana beliau mengakhiri hidupnya ketika menghadapi dan melawan penjajah Belanda”, ujar Drs. H. R. Mayusdi, M. Si.[2]
Oleh karena itu, seandainya Pangeran Ahmad Jakerta tidak mengungsi dan memilih daerah ini, tidak mungkin nama tempat ini disebut Jatinegara Kaum yang menjadi tempat makam Pangeran Ahmad Jakerta dan berdirinya sebuah masjid bersejarah yaitu Masjid Assalafiah di daerah Jatinegara Kaum.
Pada tahun 1640 Pangeran Jayakarta meninggal dunia dan dimakamkan di dekat Masjid Assalafiyah bersama puteranya Pangeran Lahut serta keluarganya, yaitu Pangeran Sageri yang merupakan putera dari Sultan Ageng Tirtayasa. Lalu Pangeran Sageri memperistri putri dari Pangeran Sangiyang, yaitu Ratu Rafiah serta Pangeran Suria, putra dari Pangeran Padmanegara yang melanjutkan perjuangan ayahnya.
Sebagai sosok pejuang yang melawan Belanda di Jakarta, Pangeran Jayakarta telah resmi diakui sebagai salah seorang pahlawan pendiri Kota Jakarta. Oleh karena itu, sudah menjadi sebuah tradisi bagi setiap gubernur DKI Jakarta untuk melaksanakan upacara ziarah tabur bunga makam sebagai bentuk penghormatan kepada Pangeran Jayakarta ketika menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) Ibu Kota Jakarta. Selain itu, makam tersebut juga dijadikan sebagai program ziarah tahunan yang dilakukan oleh pihak TNI Angkatan Darat khususnya pada saat HUT Kodam Jayakarta setiap tanggal 24 Desember.
Sebelum membahas siapa sosok Pangeran Ahmad Djakerta, penyebutan nama Ahmad Djakerta, Ahmad Jakerta dan Pangeran Jayakarta adalah orang yang sama. Hal ini sesuai dengan bukti-bukti historis dan otentik yaitu data silsilah dan sumber lisan melalui wawancara dengan keturunan atau keluarga dari Pangeran Jayakarta yang masih hidup sampai saat ini.
Pangeran Ahmad Djakerta Jayakarta adalah putra Pangeran Sungerasa Djajawikarta/Aria Tengah dan juga cucu dari Ratu Bagus Angke, yang merupakan bangsawan asal Banten. Ratu Bagus Angke alias Sultan Maulana Hasanuddin adalah menantu Fatahillah atau Falatehan (Sunan Gunung Jati/Syarif Hidayatullah), peletak dasar Kesultanan Cirebon dan Banten.[3]
Pangeran Ahmad Djakerta meneruskan perjuangan ayahnya dalam melawan Kompeni Belanda setelah ayahnya tersebut memenuhi panggilan Sultan Banten pada bulan Februari 1619. Penyebab pemanggilan itu karena Pangeran Sungerasa Djajawikarta, ayah dari Pangeran Ahmad Jakerta, dianggap bersepakat dengan Inggris dan menjalankan tindakan serta penyelewengan tanpa seizin Sultan Banten. Hal ini jelas merupakan siasat adu domba Belanda agar kekuasaan di Jayakarta melemah.
Djayakarta atau Jayakarta bukanlah sebutan nama orang, melainkan sebuah nama tempat yang berasal dari aslinya yaitu “Sunda Kelapa”. Penggantian nama dari Sunda Kelapa menjadi nama Jayakarta dilakukan setelah Fatahillah berhasil merebutnya dari kekuasaan Kerajaan Padjajaran dan penjajah Portugis.
Bagi keluarga besar Jatinegara Kaum, terlepas dari pandangan orang awam, secara umum yang dimaksud dengan Pangeran Djajakarta/Jayakarta satu-satunya sangat diyakini dan dipercaya adalah Pangeran Ahmad Jakerta yang juga telah dikenal masyarakat. Perjuangan Pangeran Ahmad Jakerta bukanlah perjuangan untuk kepentingan pribadi, akan tetapi perjuangan untuk membela kepentingan masyarakat dalam menentang penjajahan Belanda. Wilayah Jatinegara Kaum juga menjadi saksi bisu dari sebuah rangkaian kisah perjalanan perjuangan Pangeran Jayakarta dan tetap menjadi sebuah keyakinan berdasarkan bukti-bukti historis yang dapat dipertanggungjawabkan serta sumber lisan dari keturunannya yang masih ada hingga saat ini.
Sejarah Pangeran Ahmad Jakerta (Djayakarta/Jayakarta) memiliki hubungan erat dengan peninggalan benda-benda bersejarah yang sampai saat ini masih tetap terjaga kelestariannya seperti Masjid Assalafiyah dan Makam Pangeran Ahmad Jakerta. Selain itu barang-barang pusaka warisan peninggalan sejarah dari Pangeran Ahmad Jakerta (Jayakarta), merupakan bukti bahwa beliau mempunyai sisi “kekuatan heroik”, yang disimbolkan oleh dua buah tombak yaitu Biring Lanang dan Biring Galih.
Oleh karena itu, dapat kita ambil makna dan nilai kepahlawanan bagaimana seorang Pangeran Ahmad Jakerta yang berjasa sangat besar dalam meletakkan pondasi dasar  awal terbentuknya Kota Jakarta khususnya daerah Jatinegara Kaum tempat dimana Pangeran Jayakarta menetap selama menghadapi dan melawan penjajah serta memperjuangkan syiar agama Islam yang diajarkan sampai akhir hayatnya.


[1]Arsip Rukun Warga Pangeran Ahmad Jakerta, “Peranan Perdjuangan Pangeran Ahmad Jakerta dan Pengaruhnya terhadap Perkembangan Islam di Djakarta”, Panitia Ad Hock Sedjarah Pangeran Ahmad Jakerta, April 1972, hlm. 13.
[2]Sumber lisan wawancara dengan Drs. H. R. Mayusdi, M. Si, salah satu ahli waris keturunan ke 9 dari Pangeran Ahmad Jakerta (Jayakarta) pada tanggal 21 Juni 2019,pukul 17.15
[3]Arsip Rukun Warga Pangeran Ahmad Jakerta, “Peranan Perdjuangan Pangeran Ahmad Jakerta dan Pengaruhnya terhadap Perkembangan Islam di Djakarta”, Panitia Ad Hock Sedjarah Pangeran Ahmad Jakerta, April 1972, hlm. 11.