Jumat, 15 Maret 2019

MAKAM PANGERAN JAYAKARTA DAN MASJID ASSALAFIAH SEBAGAI WARISAN SEJARAH PERJUANGAN PANGERAN AHMAD JAKETRA

MAKAM PANGERAN JAYAKARTA DAN MASJID ASSALAFIAH SEBAGAI WARISAN SEJARAH PERJUANGAN PANGERAN AHMAD JAKETRA


oleh : Raden Bimo Wicaksono
(alumnus Universitas Negeri Jakarta, 2014)

Jika kita berbicara tentang Pangeran Jayakarta maka tidak dapat dipisahkan dengan pejuang terdahulu, ialah yang telah mewariskan Jayakarta untuk selanjutnya dipelihara turun temurun kepada anak cucunya. Itulah yang di da’wahkan oleh Fatahillah/Syarif Hidayatullah/Sunan Gunung Jati, karena Jayakarta itu adalah suatu wadah Ibu Kota Negara yang dihasilkan dari kemenangan yang nyata.
Jayakarta yang sebelumnya bernama Sunda Kelapa, merupakan daerah kekuasaan Kerajaaan Padjajaran. Kemudian pada tahun 1527 M, Fatahillah/Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) sebagai panglima perang Kerajaan Banten berhasil menaklukkan Sunda Kelapa dari kekuasaan Kerajaan Padjajaran dan dari rongrongan penjajahan Portugis yang juga ingin menguasai Sunda Kelapa tersebut.
Pada tanggal 22 Juni 1527 di Sunda Kelapa dilaksanakan upacara besar (Tasyakur) sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah Yang Maha Esa atas kemenangan yang telah dicapai. Kemudian pada tanggal 22 Juni 1527 dijadikan sebagai Hari Jadi Kota Jakarta.

§     Hubungan Pangeran Ahmad Djakerta (Djayakarta) dengan Asal Usul Nama Jatinegara
Pada tahun 1610–1619 terjadi peperangan antara Pangeran Djayakarta dengan Belanda. Ketika perang berlangsung, pihak Pangeran Jayakarta berusaha tetap bertahan dari serbuan pasukan Belanda yang terus mendesak kedudukan Pangeran Jayakarta. Belanda kemudian memainkan taktik liciknya yaitu dengan mengepung basis pertahanan Pangeran Jayakarta. Di pihak Pangeran Jayakarta pun ada seorang pengikutnya yang tertangkap Belanda, kemudian pengikutnya itu terpaksa memberitahukan kelemahan yang dimiliki oleh Pangeran Ahmad Jaketra. Kemudian setelah memberitahukan kelemahan tersebut dia dibebaskan. Saat pengikut Pangeran Jaketra ini kembali ke daerahnya, ternyata dia dianggap sebagai pengkhianat karena memberitahukan kelemahan yang dimiliki oleh Pangeran Ahmad Jaketra.[1]
Oleh karena itulah pengikut beliau yang dianggap pengkhianat ini, dihukum dengan diikat kakinya kemudian ditarik oleh 12 ekor kuda sampai selangkangan kaki dan kulitnya pecah. Kisah inilah yang oleh warga setempat menjadi nama dari sebuah daerah yaitu Pecah Kulit di daerah Mangga Dua.
Setelah Pangeran Djaketra berhasil menyelamatkan diri dari serangan Belanda, beliau bersama pengikutnya mencari tempat untuk memindahkan basis pertahanannya menuju ke arah timur Jakarta dan letaknya di seberang Kali Sunter. Di tempat itulah Pangeran Ahmad Djakerta menyusun strategi  perang gerilya. Kemudian pada akhir tahun 1619 M, diresmikanlah tempat Pangeran Ahmad Jakerta  menetap dengan diberi nama JATINEGARA yang artinya Pemerintahan Sejati. [2]
Selanjutnya untuk menjaga keselamatan anak cucu/keturunannya maka Pangeran Ahmad Jaketra sebelum akhir hayatnya berwasiat bahwa tempat dan keadaan beliau harus dirahasiakan kepada siapapun juga selama bangsa Belanda masih bercokol di Nusantara. Maka dengan amanat/wasiat inilah selama itu pula dipegang teguh oleh anak/cucu keturunan beliau termasuk para sesepuh dahulu yang ada di Jatinegara Kaum.[3]
“Nama Jatinegara adalah suatu bukti nyata bahwa di daerah ini oleh Pangeran Ahmad Jaketra dijadikan basis pertahanan, tempat penyusunan kekuatan, tempat akhir hidup dan pemakamannya dalam masa menghadapi penjajah Belanda”, ujar Drs. R. Mayusdi, M. Si.[4]
Jadi andaikata Pangeran Ahmad Jakerta tidak mengungsi dan memilih daerah ini, tidak mungkin nama tempat ini disebut Jatinegara Kaum yang menjadi tempat makam pangeran Ahmad Jakerta dan berdirinya sebuah Masjid bersejarah yaitu Masjid Assalafiah di daerah Jatinegara Kaum. 
Masjid Assalafiah di Jatinegara Kaum 
Pangeran Ahmad Jakerta kemudian mendirikan sebuah masjid yang bernama “Assalafiah” yang berarti Tertua. Masjid ini terletak di wilayah RT 006/RW 03 tepatnya di Jalan Jatinegara Kaum Raya, di tepi timur sungai Sunter. Bangunan ini sudah mengalami perbaikan, penambahan dan pemugaran, sehingga bentuknya yang sekarang tidak sesuai lagi dengan bangunannya yang lama.
Bagian yang asli dari bangunan masjid ini adalah atap yang terdapat di sebelah barat. Atap ini berbentuk limas/kerucut, semakin keatas semakin meruncing dengan bagian dasarnya berbentuk bujur sangkar. Atapnya genteng, sedangkan kaso, reng dan tiang penopang terbuat dari kayu.[6]
Menurut informasi Drs. R. Mayusdi, M.Si (salah satu ahli waris dan keturunan ke 9 dari Pangeran Ahmad Jakerta) dulunya atap ini bertumpang dua seperti lazimnya atap-atap mesjid kuno lainnya di Pulau Jawa. Berdenah bujur sangkar dengan ukuran 10x10 meter. Pintu masuk berukuran lebar yang terdiri dari dua daun pintu. Jendela berukuran besar dengan terali yang terbuat dari kayu batang pohon aren.[7]
Kompleks Makam Pangeran Jayakarta

Pada tahun 1640 M Pangeran Jayakarta meninggal dunia dan dimakamkan di dekat Masjid Assalafiah bersama puteranya Pangeran Lahut dan familinya yaitu Pangeran Sageri yang merupakan putera dari Sultan Ageng Tirtayasa, lalu istri dari Pangeran Sangiyang yaitu Ratu Rafiah serta Pangeran Suria. 
Komplek makam yang terdiri dari makam Pangeran Jayakarta, keluarga pangeran dan masyarakat biasa terletak di sebelah barat daya dan utara masjid. Khusus makam Pangeran Jayakarta dan keluarganya berlokasi di sebelah barat daya masjid. Makam-makam ini diletakkan pada tempat yang agak tinggi. Bentuk dan hiasan nisan hampir seluruhnya serupa, yakni berbentuk pipih dengan hiasan kerawal, bentuk kijing berundak, sekarang berhiasan marmer.[8]
“Waktu masih hidup, Pangeran Jayakarta pernah berpesan agar jika mati kuburannya dirahasiakan sampai Belanda angkat kaki dari Jakarta,” kata Raden Supriyadi Rosyid, penjaga makam Pangeran Jayakarta yang terletak di pekarangan Masjid As-Salafiyah tersebut.[9]
“Sebab, kalau sampai ketahuan Belanda, makam itu pasti dimusnahkan,” lanjut pria berusia 58 tahun itu. Wasiat itulah yang kemudian berusaha dipenuhi kerabat dan keturunannya. Sejak Pangeran Ahmad Jakerta (Jayakarta) wafat dan dimakamkan tahun 1640, mereka menutup rapat-rapat segala informasi tentang keberadaan kuburannya.
Rahasia tersebut terus dijaga dari generasi ke generasi selama lebih dari tiga abad, sampai penjajah Belanda benar-benar hengkang dari bumi Nusantara. “Baru pada zaman Gubernur Henk Ngantung keberadaan makam ini diungkapkan kepada umum,” ujar Rosyid yang mengaku termasuk keturunan ke-13 dari Pangeran Jayakarta.
Setelah itu, makam Pangeran Jayakarta tak pernah sepi dari kunjungan para peziarah. Mereka tak cuma datang dari Jakarta dan sekitarnya, tetapi bahkan dari berbagai daerah di luar Jawa. Menurut penuturan Rosyid, “Peziarah banyak datang Mas kesini, terutama pada setiap malam Jumat.”
Sebagai pejuang yang melawan Belanda di Jakarta, Pangeran Jayakarta dianggap sebagai salah seorang pahlawan Jakarta. Karenanya, sudah jadi tradisi bagi gubernur Jakarta untuk berziarah ke makamnya setiap hari ulang tahun Ibu Kota Jakarta.[10] Selain itu, makam tersebut juga digunakan sebagai program ziarah tahunan yang dilakukan oleh pihak TNI khususnya pada saat HUT Kodam Jayakarta setiap tanggal 24 Desember.[11]

§     Jatinegara Kaum : Desa Historis
Batas-batas wilayah Kelurahan Jatinegara Kaum yaitu :[12]
ª      Utara berbatasan dengan Kelurahan Pulogadung dan Jalan PT Danapaint.
ª      Timur berbatasan dengan Jalan Raya Bekasi dan Kelurahan Jatinegara.
ª      Selatan berbatasan dengan Kelurahan Klender dan rel kereta api.
ª   Barat berbatasan dengan Kelurahan Cipinang, Jatirawamangun, dan Kali Sunter.
       
Jatinegara Kaum merupakan salah satu desa yag terletak 5 Km di sebelah timur Stasiun Meester/Rawabangko (sekarang Stasiun Jatinegara) dan sekarang berada dalam wilayah Kelurahan Jatinegara Kaum, Kecamatan Pulogadung, Kota Administrasi Jakarta Timur.
Sejak tahun 1947 hingga sekarang Jatinegara Kaum masuk ke dalam Kecamatan Pulo Gadung. Daerah ini baru menjadi kelurahan tersendiri pada tanggal 1 Oktober 1966 yang merupakan penggabungan dari pecahan Kelurahan Klender, Jatinegara dan Rawaterate. Dengan demikian kini secara administratif Jatinegara Kaum merupakan kelurahan di bawah Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur .[13] Luas wilayah Jatinegara pada zaman Pangeran Ahmad Jakerta seluas 1200 Hektare. Kemudian luas wilayah Jatinegara sekarang yang lebih dikenal dengan Kelurahan Jatinegara Kaum seluas 200 Hektare sejak keputusan Gubernur DKI Jakarta tahun 1966.
Pada masa itu pergaulannya hanya terbatas dalam lingkungan kekeluargaan saja, dan mengenai perkawinan pun selalu dilakukan antar warga (perkawinan sepupu). Warga tidak dibolehkan menjual tanah pekarangannya kepada orang lain yang berasal dari luar daerah Jatinegara Kaum. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga keaslian “Tanah Pusaka” peninggalan Pangeran Ahmad Djakerta. Sifat gotong royong yang tetap tertanam di dalam jiwa setiap warga Jatinegara Kaum merupakan suatu warisan dari nenek moyang yang turun-menurun. Selain itu warga Jatinegara Kaum sejak dahulu sampai sekarang memegang teguh wasiat Pangeran Ahmad Djakerta yaitu untuk tidak membunyikan gamelan khusus yang disebut Go-ong.[14]
Menurut Drs. Mayusdi, M. Si, Go-ong adalah sebuah gong besar yang ada di gamelan, digunakan untuk acara peresmian gedung. Namun bagi keturunan Pangeran Ahmad Jakerta (Jayakarta) tidak memakai alat ini sebagai hiburan seperti wayang golek dan lenong. Hal ini dikarenakan adanya pantangan (pamali) yang dipegang teguh oleh warga Jatinegara Kaum. Apabila dilanggar maka anak/cucu keturunan akan mendapatkan kesusahan dan kesulitan seumur hidupnya.[15]

§     Siapakah Sosok Pangeran Ahmad Djakerta ??
Pangeran Ahmad Djakerta Jayakarta adalah putra Pangeran Sungerasa Djajawikarta/Aria Tengah dan juga cucu dari Ratu Bagus Angke, yang merupakan bangsawan asal Banten. Ratu Bagus Angke alias Pangeran Hasanuddin adalah menantu Fatahillah atau Falatehan (Sunan Gunung Jati/Syarif Hidayatullah), peletak dasar Kesultanan Cirebon dan Banten.[16]
Pangeran Ahmad Djakerta meneruskan perjuangan ayahnya dalam melawan Kompeni Belanda setelah ayahnya tersebut memenuhi panggilan Sultan Banten pada bulan Februari 1619. Penyebab pemanggilan itu karena Pangeran Sungerasa Djajawikarta (ayah dari Pangeran Djakerta) dianggap bersepakat dengan Inggris dan menjalankan tindakan serta penyelewengan tanpa seizin Sultan Banten. Hal ini jelas merupakan siasat adu domba Belanda agar kekuasaan di Jayakarta melemah.[17]
Perselisihan antara Pangeran Ahmad Djakerta dengan Belanda terjadi pada tahun 1610–1619. Perang tersebut tidak seimbang karena Belanda dengan siasat liciknya mengetahui kelemahan yang dimiliki Pangeran Djakerta. Belanda kemudian mendesak pertahanan pasukan Pangeran Djakerta sehingga kedudukan beliau terdesak dan terkepung.
Dalam menghadapi situasi ini Pangeran Djakerta menggunakan taktik menipu Belanda. Menurut cerita Raden Jayanegara, yang juga keturunan Pangeran Jayakarta, menyebutkan saat jadi buronan Belanda, kakek moyangnya itu berhasil mengelabui tentara Belanda dengan melepas jubah dan sorbannya, yang lantas dibuang ke dalam sebuah sumur di daerah yang sekarang bernama Mangga Dua, Jakarta Barat.[18]
Belanda menyangka Pangeran Jayakarta tewas setelah menembaki jubah dan sorban di sumur itu, yang kini berada di Jalan Pangeran Jayakarta, Mangga Dua dan dikenal sebagai keramat Pangeran Jayakarta.

KESIMPULAN
Djayakarta bukanlah sebutan nama orang, melainkan nama tempat yang berasal dari aslinya yaitu “Sunda Kelapa”. Penggantian nama dari Sunda Kelapa menjadi nama Jayakarta dilakukan setelah Fatahillah berhasil merebutnya dari kekuasaan Kerajaan Padjajaran dan penjajah Portugis.
Bagi keluarga besar Jatinegara Kaum, terlepas dari pandangan orang secara umum yang dimaksud dengan “Pangeran Djajakarta” satu-satunya adalah Pangeran Ahmad Jakerta yang telah dikenal masyarakat. Perjuangan Pangeran Ahmad Jakerta bukanlah perjuangan untuk kepentingan pribadi, akan tetapi perjuangan untuk kepentingan daerahnya dalam menentang penjajahan.
Sejarah Pangeran Ahmad Jaketra (Djajakarta) memiliki hubungan erat dengan peninggalan benda-benda bersejarah yang sampai saat ini masih tetap terjaga kelestariannya seperti Masjid Assalafiah dan Makam Pangeran Ahmad Jakerta (Djayakarta). Kemudian barang-barang pusaka yang merupakan warisan peninggalan sejarah dari Pangeran Ahmad Jakerta (Jayakarta).
Berdasarkan pembahasan di atas dapat kita ambil makna bagaimana seorang Pangeran Ahmad Jaketra yang berjasa sangat besar dalam meletakkan pondasi dasar  awal terbentuknya Jakarta dan khususnya daerah Jatinegara Kaum.


[1] Arsip Rukun Warga Pangeran Ahmad Jaketra, “Peranan Perdjuangan Pangeran Ahmad Jaketra dan Pengaruhnya terhadap Perkembangan Islam di Djakarta”, Panitia Ad Hock Sedjarah Pangeran Ahmad Jaketra, April 1972, hlm. 13.
[2] Arsip Rukun Warga Pangeran Ahmad Jaketra, “Peranan Perdjuangan Pangeran Ahmad Jaketra dan Pengaruhnya terhadap Perkembangan Islam di Djakarta”, Panitia Ad Hock Sedjarah Pangeran Ahmad Jaketra, April 1972, hlm. 15.
[3] Sumber lisan wawancara dengan Drs. R. Mayusdi, M. Si, salah satu ahli waris keturunan ke 9 dari Pangeran Ahmad Jakerta (Jayakarta) pada tanggal 23 Desember 2010 pukul 15.00 WIB.
[4] Sumber lisan wawancara dengan Drs. R. Mayusdi, M. Si, salah satu ahli waris keturunan ke 9 dari Pangeran Ahmad Jakerta (Jayakarta) pada tanggal 23 Desember 2010.
[5] Foto diambil pada tanggal 23 Desember 2010 pukul 15.00 WIB.
[6] Sumber lisan wawancara dengan Drs. R. Mayusdi, M. Si, salah satu ahli waris keturunan ke 9 dari Pangeran Ahmad Jakerta (Jayakarta) pada tanggal 23 Desember 2010 pukul 15.00 WIB.
[7] Sumber lisan wawancara dengan Drs. Mayusdi, M. Si, salah satu ahli waris keturunan ke 9 dari Pangeran Ahmad Jakerta (Jayakarta) pada tanggal 23 Desember 2010 pukul 15.00 WIB.
[8] Artikel “Kampung Tua di Jakarta”, Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta, 1993.
[9] Sumber lisan wawancara penulis dengan Raden Supriyadi Rosyid, salah satu keturunan ke 13 dari Pangeran Ahmad Jakerta (Jayakarta) pada tanggal 24 Desember 2010 pukul 10.00 WIB.
[10] Sumber lisan wawancara dengan Drs. Mayusdi, M. Si, salah satu ahli waris keturunan ke 9 dari Pangeran Ahmad Jakerta (Jayakarta) pada tanggal 23 Desember 2010 pukul 15.00 WIB.
[11]  Sumber lisan wawancara dengan Serda. Agus, saat sebelum upacara Peringatan HUT Kodam Jaya pada tanggal 24 Desember 2010 pukul 07.00 WIB.
[12] Arsip Kelurahan Jatinegara Kaum, diakses pada tanggal 23 Desember 2010.
[13] Arsip Kecamatan Pulo Gadung, diakses pada tanggal 23 Desember 2010.
[14] Sumber lisan wawancara dengan Drs. R.  Mayusdi, M. Si, salah satu ahli waris keturunan ke 9 dari Pangeran Ahmad Jakerta (Jayakarta) pada tanggal 23 Desember 2010.
[15] Sumber lisan wawancara dengan Drs. R.  Mayusdi, M. Si, salah satu ahli waris keturunan ke 9 dari Pangeran Ahmad Jakerta (Jayakarta) pada tanggal 23 Desember 2010.
[16] Arsip Rukun Warga Pangeran Ahmad Jaketra, “Peranan Perdjuangan Pangeran Ahmad Jaketra dan Pengaruhnya terhadap Perkembangan Islam di Djakarta”, Panitia Ad Hock Sedjarah Pangeran Ahmad Jaketra, April 1972, hlm. 11.
[17] Arsip Rukun Warga Pangeran Ahmad Jaketra, “Peranan Perdjuangan Pangeran Ahmad Jaketra dan Pengaruhnya terhadap Perkembangan Islam di Djakarta”, Panitia Ad Hock Sedjarah Pangeran Ahmad Jaketra, April 1972, hlm. 10.
[18] Berdasarkan wawancara dengan Drs. R. Mayusdi, M. Si, (salah satu ahli waris keturunan ke 9 dari Pangeran Ahmad Jakerta, yang juga keluarga dari Raden Jayanegara) pada tanggal 23 Desember 2010.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar