MAKAM PANGERAN JAYAKARTA DAN MASJID ASSALAFIAH
SEBAGAI WARISAN SEJARAH PERJUANGAN PANGERAN AHMAD JAKETRA
oleh : Raden Bimo Wicaksono
(alumnus Universitas Negeri Jakarta, 2014)
Jika kita berbicara tentang Pangeran Jayakarta maka
tidak dapat dipisahkan dengan pejuang terdahulu, ialah yang telah mewariskan
Jayakarta untuk selanjutnya dipelihara turun temurun kepada anak cucunya.
Itulah yang di da’wahkan oleh Fatahillah/Syarif Hidayatullah/Sunan Gunung Jati,
karena Jayakarta itu adalah suatu wadah Ibu Kota Negara yang dihasilkan dari
kemenangan yang nyata.
Jayakarta yang sebelumnya bernama Sunda Kelapa,
merupakan daerah kekuasaan Kerajaaan Padjajaran. Kemudian pada tahun 1527 M,
Fatahillah/Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) sebagai panglima perang
Kerajaan Banten berhasil menaklukkan Sunda Kelapa dari kekuasaan Kerajaan
Padjajaran dan dari rongrongan penjajahan Portugis yang juga ingin menguasai
Sunda Kelapa tersebut.
Pada tanggal 22 Juni 1527 di Sunda Kelapa
dilaksanakan upacara besar (Tasyakur) sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah
Yang Maha Esa atas kemenangan yang telah dicapai. Kemudian pada tanggal 22 Juni
1527 dijadikan sebagai Hari Jadi Kota Jakarta.
§
Hubungan Pangeran Ahmad Djakerta (Djayakarta) dengan
Asal Usul Nama Jatinegara
Pada tahun 1610–1619 terjadi peperangan antara Pangeran
Djayakarta dengan Belanda. Ketika perang berlangsung, pihak Pangeran Jayakarta
berusaha tetap bertahan dari serbuan pasukan Belanda yang terus mendesak
kedudukan Pangeran Jayakarta. Belanda kemudian memainkan taktik liciknya yaitu
dengan mengepung basis pertahanan Pangeran Jayakarta. Di pihak Pangeran
Jayakarta pun ada seorang pengikutnya yang tertangkap Belanda, kemudian
pengikutnya itu terpaksa memberitahukan kelemahan yang dimiliki oleh Pangeran
Ahmad Jaketra. Kemudian setelah memberitahukan kelemahan tersebut dia
dibebaskan. Saat pengikut Pangeran Jaketra ini kembali ke daerahnya, ternyata
dia dianggap sebagai pengkhianat karena memberitahukan kelemahan yang dimiliki
oleh Pangeran Ahmad Jaketra.[1]
Oleh karena
itulah pengikut beliau yang dianggap pengkhianat ini, dihukum dengan diikat
kakinya kemudian ditarik oleh 12 ekor kuda sampai selangkangan kaki dan
kulitnya pecah. Kisah inilah yang oleh warga setempat menjadi nama dari sebuah
daerah yaitu Pecah Kulit di daerah Mangga Dua.
Setelah Pangeran
Djaketra berhasil menyelamatkan diri dari serangan Belanda, beliau bersama
pengikutnya mencari tempat untuk memindahkan basis pertahanannya menuju ke arah
timur Jakarta dan letaknya di seberang Kali Sunter. Di tempat itulah Pangeran
Ahmad Djakerta menyusun strategi perang
gerilya. Kemudian pada akhir tahun 1619 M, diresmikanlah tempat Pangeran Ahmad
Jakerta menetap dengan diberi nama JATINEGARA yang artinya Pemerintahan
Sejati. [2]
Selanjutnya
untuk menjaga keselamatan anak cucu/keturunannya maka Pangeran Ahmad Jaketra
sebelum akhir hayatnya berwasiat bahwa tempat dan keadaan beliau harus dirahasiakan kepada siapapun juga
selama bangsa Belanda masih bercokol di Nusantara. Maka dengan amanat/wasiat
inilah selama itu pula dipegang teguh oleh anak/cucu keturunan beliau termasuk
para sesepuh dahulu yang ada di Jatinegara Kaum.[3]
“Nama Jatinegara
adalah suatu bukti nyata bahwa di daerah ini oleh Pangeran Ahmad Jaketra
dijadikan basis pertahanan, tempat penyusunan kekuatan, tempat akhir hidup dan
pemakamannya dalam masa menghadapi penjajah Belanda”, ujar Drs. R. Mayusdi, M.
Si.[4]
Jadi andaikata
Pangeran Ahmad Jakerta tidak mengungsi dan memilih daerah ini, tidak mungkin
nama tempat ini disebut Jatinegara Kaum yang menjadi tempat makam pangeran
Ahmad Jakerta dan berdirinya sebuah Masjid bersejarah yaitu Masjid Assalafiah
di daerah Jatinegara Kaum.
Masjid Assalafiah di Jatinegara Kaum
Pangeran Ahmad
Jakerta kemudian mendirikan sebuah masjid yang bernama “Assalafiah” yang
berarti Tertua. Masjid ini terletak di wilayah RT 006/RW 03 tepatnya di Jalan
Jatinegara Kaum Raya, di tepi timur sungai Sunter. Bangunan ini sudah mengalami
perbaikan, penambahan dan pemugaran, sehingga bentuknya yang sekarang tidak
sesuai lagi dengan bangunannya yang lama.
Bagian yang asli
dari bangunan masjid ini adalah atap yang terdapat di sebelah barat. Atap ini
berbentuk limas/kerucut, semakin keatas semakin meruncing dengan bagian
dasarnya berbentuk bujur sangkar. Atapnya genteng, sedangkan kaso, reng dan
tiang penopang terbuat dari kayu.[6]
Menurut
informasi Drs. R. Mayusdi, M.Si (salah
satu ahli waris dan keturunan ke 9 dari Pangeran Ahmad Jakerta) dulunya atap
ini bertumpang dua seperti lazimnya atap-atap mesjid kuno lainnya di Pulau
Jawa. Berdenah bujur sangkar dengan ukuran 10x10 meter. Pintu masuk berukuran
lebar yang terdiri dari dua daun pintu. Jendela berukuran besar dengan terali
yang terbuat dari kayu batang pohon aren.[7]
Pada tahun 1640 M Pangeran Jayakarta
meninggal dunia dan dimakamkan di dekat Masjid
Assalafiah bersama puteranya Pangeran Lahut dan familinya yaitu Pangeran
Sageri yang merupakan putera dari Sultan Ageng Tirtayasa, lalu istri dari
Pangeran Sangiyang yaitu Ratu Rafiah serta Pangeran Suria.
Komplek makam
yang terdiri dari makam Pangeran Jayakarta, keluarga pangeran dan masyarakat
biasa terletak di sebelah barat daya dan utara masjid. Khusus makam Pangeran
Jayakarta dan keluarganya berlokasi di sebelah barat daya masjid. Makam-makam
ini diletakkan pada tempat yang agak tinggi. Bentuk dan hiasan nisan hampir
seluruhnya serupa, yakni berbentuk pipih dengan hiasan kerawal, bentuk kijing
berundak, sekarang berhiasan marmer.[8]
“Waktu masih
hidup, Pangeran Jayakarta pernah berpesan agar jika mati kuburannya
dirahasiakan sampai Belanda angkat kaki dari Jakarta,” kata Raden Supriyadi Rosyid, penjaga makam
Pangeran Jayakarta yang terletak di pekarangan Masjid As-Salafiyah tersebut.[9]
“Sebab, kalau
sampai ketahuan Belanda, makam itu pasti dimusnahkan,” lanjut pria berusia 58
tahun itu. Wasiat itulah yang kemudian berusaha dipenuhi kerabat dan
keturunannya. Sejak Pangeran Ahmad Jakerta (Jayakarta) wafat dan dimakamkan
tahun 1640, mereka menutup rapat-rapat segala informasi tentang keberadaan
kuburannya.
Rahasia tersebut
terus dijaga dari generasi ke generasi selama lebih dari tiga abad, sampai
penjajah Belanda benar-benar hengkang dari bumi Nusantara. “Baru pada zaman
Gubernur Henk Ngantung keberadaan makam ini diungkapkan kepada umum,” ujar
Rosyid yang mengaku termasuk keturunan ke-13 dari Pangeran Jayakarta.
Setelah itu,
makam Pangeran Jayakarta tak pernah sepi dari kunjungan para peziarah. Mereka
tak cuma datang dari Jakarta dan sekitarnya, tetapi bahkan dari berbagai daerah
di luar Jawa. Menurut penuturan Rosyid, “Peziarah banyak datang Mas kesini, terutama
pada setiap malam Jumat.”
Sebagai pejuang
yang melawan Belanda di Jakarta, Pangeran Jayakarta dianggap sebagai salah
seorang pahlawan Jakarta. Karenanya, sudah jadi tradisi bagi gubernur Jakarta
untuk berziarah ke makamnya setiap hari ulang tahun Ibu Kota Jakarta.[10] Selain itu, makam tersebut juga digunakan sebagai
program ziarah tahunan yang dilakukan oleh pihak TNI khususnya pada saat HUT
Kodam Jayakarta setiap tanggal 24 Desember.[11]
§
Jatinegara Kaum : Desa Historis
Batas-batas
wilayah Kelurahan
Jatinegara Kaum yaitu :[12]
ª
Utara berbatasan dengan Kelurahan Pulogadung dan Jalan PT
Danapaint.
ª
Timur berbatasan dengan Jalan Raya Bekasi dan Kelurahan
Jatinegara.
ª
Selatan berbatasan dengan Kelurahan Klender dan rel kereta
api.
ª Barat berbatasan dengan Kelurahan Cipinang, Jatirawamangun, dan
Kali Sunter.
Jatinegara Kaum merupakan salah satu desa yag
terletak 5 Km di sebelah timur Stasiun Meester/Rawabangko (sekarang Stasiun
Jatinegara) dan sekarang berada dalam wilayah Kelurahan Jatinegara Kaum,
Kecamatan Pulogadung, Kota Administrasi Jakarta Timur.
Sejak tahun 1947 hingga sekarang
Jatinegara Kaum masuk ke dalam Kecamatan Pulo Gadung. Daerah ini baru menjadi
kelurahan tersendiri pada tanggal 1 Oktober 1966 yang merupakan penggabungan
dari pecahan Kelurahan Klender, Jatinegara dan Rawaterate. Dengan demikian kini
secara administratif Jatinegara Kaum merupakan kelurahan di bawah Kecamatan
Pulo Gadung, Jakarta Timur .[13] Luas wilayah Jatinegara pada zaman Pangeran Ahmad
Jakerta seluas 1200 Hektare. Kemudian luas wilayah Jatinegara sekarang yang
lebih dikenal dengan Kelurahan Jatinegara Kaum seluas 200 Hektare sejak
keputusan Gubernur DKI Jakarta tahun 1966.
Pada
masa itu pergaulannya hanya terbatas dalam lingkungan kekeluargaan saja, dan
mengenai perkawinan pun selalu dilakukan antar warga (perkawinan sepupu). Warga
tidak dibolehkan menjual tanah pekarangannya kepada orang lain yang berasal
dari luar daerah Jatinegara Kaum. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga keaslian “Tanah
Pusaka” peninggalan Pangeran Ahmad Djakerta. Sifat gotong royong yang
tetap tertanam di dalam jiwa setiap warga Jatinegara Kaum merupakan suatu
warisan dari nenek moyang yang turun-menurun. Selain itu warga Jatinegara Kaum
sejak dahulu sampai sekarang memegang teguh wasiat Pangeran Ahmad Djakerta
yaitu untuk tidak membunyikan gamelan khusus yang disebut Go-ong.[14]
Menurut
Drs. Mayusdi, M. Si, Go-ong adalah sebuah gong besar yang ada di gamelan,
digunakan untuk acara peresmian gedung. Namun bagi keturunan Pangeran Ahmad
Jakerta (Jayakarta) tidak memakai alat ini sebagai hiburan seperti wayang golek
dan lenong. Hal ini dikarenakan adanya pantangan (pamali) yang dipegang
teguh oleh warga Jatinegara Kaum. Apabila dilanggar maka anak/cucu keturunan
akan mendapatkan kesusahan dan kesulitan seumur hidupnya.[15]
§
Siapakah Sosok Pangeran Ahmad Djakerta ??
Pangeran Ahmad Djakerta Jayakarta adalah putra
Pangeran Sungerasa Djajawikarta/Aria Tengah dan juga cucu dari Ratu Bagus
Angke, yang merupakan bangsawan asal Banten. Ratu Bagus Angke alias Pangeran
Hasanuddin adalah menantu Fatahillah atau Falatehan (Sunan Gunung Jati/Syarif
Hidayatullah), peletak dasar Kesultanan Cirebon dan Banten.[16]
Pangeran Ahmad Djakerta meneruskan perjuangan
ayahnya dalam melawan Kompeni Belanda setelah ayahnya tersebut memenuhi
panggilan Sultan Banten pada bulan Februari 1619. Penyebab pemanggilan itu
karena Pangeran Sungerasa Djajawikarta (ayah dari Pangeran Djakerta) dianggap
bersepakat dengan Inggris dan menjalankan tindakan serta penyelewengan tanpa seizin
Sultan Banten. Hal ini jelas merupakan siasat adu domba Belanda agar kekuasaan
di Jayakarta melemah.[17]
Perselisihan antara Pangeran Ahmad Djakerta dengan
Belanda terjadi pada tahun 1610–1619. Perang tersebut tidak seimbang karena
Belanda dengan siasat liciknya mengetahui kelemahan yang dimiliki Pangeran
Djakerta. Belanda kemudian mendesak pertahanan pasukan Pangeran Djakerta
sehingga kedudukan beliau terdesak dan terkepung.
Dalam menghadapi situasi ini Pangeran Djakerta
menggunakan taktik menipu Belanda. Menurut cerita Raden Jayanegara, yang juga
keturunan Pangeran Jayakarta, menyebutkan saat jadi buronan Belanda, kakek
moyangnya itu berhasil mengelabui tentara Belanda dengan melepas jubah dan
sorbannya, yang lantas dibuang ke dalam sebuah sumur di daerah yang sekarang
bernama Mangga Dua, Jakarta Barat.[18]
Belanda menyangka Pangeran Jayakarta tewas setelah
menembaki jubah dan sorban di sumur itu, yang kini berada di Jalan Pangeran
Jayakarta, Mangga Dua dan dikenal sebagai keramat Pangeran Jayakarta.
KESIMPULAN
Djayakarta bukanlah sebutan
nama orang, melainkan nama tempat yang berasal dari aslinya yaitu “Sunda
Kelapa”. Penggantian nama dari Sunda Kelapa menjadi nama Jayakarta dilakukan
setelah Fatahillah berhasil merebutnya dari kekuasaan Kerajaan Padjajaran dan
penjajah Portugis.
Bagi keluarga besar Jatinegara Kaum, terlepas
dari pandangan orang secara umum yang dimaksud dengan “Pangeran Djajakarta”
satu-satunya adalah Pangeran Ahmad
Jakerta yang telah dikenal masyarakat. Perjuangan Pangeran Ahmad Jakerta
bukanlah perjuangan untuk kepentingan pribadi, akan tetapi perjuangan untuk
kepentingan daerahnya dalam menentang penjajahan.
Sejarah Pangeran Ahmad Jaketra (Djajakarta)
memiliki hubungan erat dengan peninggalan benda-benda bersejarah yang sampai
saat ini masih tetap terjaga kelestariannya seperti Masjid Assalafiah dan Makam
Pangeran Ahmad Jakerta (Djayakarta). Kemudian barang-barang pusaka yang
merupakan warisan peninggalan sejarah dari Pangeran Ahmad Jakerta (Jayakarta).
Berdasarkan pembahasan di atas dapat kita
ambil makna bagaimana seorang Pangeran Ahmad Jaketra yang berjasa sangat besar
dalam meletakkan pondasi dasar awal
terbentuknya Jakarta dan khususnya daerah Jatinegara Kaum.
[1] Arsip Rukun Warga Pangeran
Ahmad Jaketra, “Peranan Perdjuangan Pangeran Ahmad Jaketra dan Pengaruhnya
terhadap Perkembangan Islam di Djakarta”, Panitia Ad Hock Sedjarah Pangeran
Ahmad Jaketra, April 1972, hlm. 13.
[2] Arsip Rukun Warga Pangeran
Ahmad Jaketra, “Peranan Perdjuangan Pangeran Ahmad Jaketra dan Pengaruhnya
terhadap Perkembangan Islam di Djakarta”, Panitia Ad Hock Sedjarah Pangeran
Ahmad Jaketra, April 1972, hlm. 15.
[3] Sumber lisan wawancara
dengan Drs. R. Mayusdi, M. Si, salah satu ahli waris keturunan ke 9 dari
Pangeran Ahmad Jakerta (Jayakarta) pada tanggal 23 Desember 2010 pukul 15.00
WIB.
[4] Sumber lisan wawancara
dengan Drs. R. Mayusdi, M. Si, salah satu ahli waris keturunan ke 9 dari
Pangeran Ahmad Jakerta (Jayakarta) pada tanggal 23 Desember 2010.
[5] Foto diambil pada tanggal
23 Desember 2010 pukul 15.00 WIB.
[6] Sumber lisan wawancara
dengan Drs. R. Mayusdi, M. Si, salah satu ahli waris keturunan ke 9 dari
Pangeran Ahmad Jakerta (Jayakarta) pada tanggal 23 Desember 2010 pukul 15.00
WIB.
[7] Sumber lisan wawancara
dengan Drs. Mayusdi, M. Si, salah satu ahli waris keturunan ke 9 dari Pangeran
Ahmad Jakerta (Jayakarta) pada tanggal 23 Desember 2010 pukul 15.00 WIB.
[8] Artikel “Kampung Tua di
Jakarta”, Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta, 1993.
[9] Sumber lisan wawancara
penulis dengan Raden Supriyadi Rosyid, salah satu keturunan ke 13 dari Pangeran
Ahmad Jakerta (Jayakarta) pada tanggal 24 Desember 2010 pukul 10.00 WIB.
[10] Sumber lisan wawancara
dengan Drs. Mayusdi, M. Si, salah satu ahli waris keturunan ke 9 dari Pangeran
Ahmad Jakerta (Jayakarta) pada tanggal 23 Desember 2010 pukul 15.00 WIB.
[11]
Sumber lisan wawancara dengan Serda.
Agus, saat sebelum upacara Peringatan HUT Kodam Jaya pada tanggal 24 Desember
2010 pukul 07.00 WIB.
[12]
Arsip Kelurahan Jatinegara Kaum, diakses pada tanggal 23 Desember 2010.
[13] Arsip Kecamatan Pulo
Gadung, diakses pada tanggal 23 Desember 2010.
[14]
Sumber lisan wawancara dengan Drs. R. Mayusdi, M. Si, salah satu ahli waris
keturunan ke 9 dari Pangeran Ahmad Jakerta (Jayakarta) pada tanggal 23 Desember
2010.
[15] Sumber lisan wawancara
dengan Drs. R. Mayusdi, M. Si, salah
satu ahli waris keturunan ke 9 dari Pangeran Ahmad Jakerta (Jayakarta) pada
tanggal 23 Desember 2010.
[16] Arsip Rukun Warga
Pangeran Ahmad Jaketra, “Peranan Perdjuangan Pangeran Ahmad Jaketra dan
Pengaruhnya terhadap Perkembangan Islam di Djakarta”, Panitia Ad Hock Sedjarah
Pangeran Ahmad Jaketra, April 1972, hlm. 11.
[17] Arsip Rukun Warga
Pangeran Ahmad Jaketra, “Peranan Perdjuangan Pangeran Ahmad Jaketra dan
Pengaruhnya terhadap Perkembangan Islam di Djakarta”, Panitia Ad Hock Sedjarah
Pangeran Ahmad Jaketra, April 1972, hlm. 10.
[18] Berdasarkan wawancara
dengan Drs. R. Mayusdi, M. Si, (salah satu ahli waris keturunan ke 9 dari
Pangeran Ahmad Jakerta, yang juga keluarga dari Raden Jayanegara) pada tanggal
23 Desember 2010.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar