PATRIOTISME PRAJURIT GERAK TJEPAT
ANGKATAN UDARA (PGT AU) DALAM OPERASI TRIKORA
”Trikora
merupakan operasi untuk merebut Papua Barat dari penguasaan Belanda dalam
rangka kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia”
Pendahuluan
Masa depan
suatu bangsa merupakan milik generasi muda namun meskipun demikian, masa depan
itu tidaklah berdiri sendiri karena merupakan kelanjutan dari dari masa lalu
dan masa sekarang, artinya masa depan merupakan representasi dari masa lalu.
Oleh karena itu perlu adanya penyampaian kepeloporan-kepeloporan yang pernah
dilakukan oleh generasi pendahulu khususnya yang telah menghasilkan sesuatu
yang berguna terhadap kehidupan bangsa dan negara.
Menurut
teori Geertz seperti yang dikutip Burhan Magenda (2001:49-56) bahwa diperlukan
lembaga-lembaga persatuan melalui state
building sehingga ketika the founding
fathers sudah meninggal, negara bangsa tetap bertahan dan tidak pecah.
Adapun lembaga-lembaga tersebut diantaranya : birokrasi sipil dan militer,
partai politik, sistem pendidikan nasional, serta kemajuan komunikasi dan
transportasi serta identitas nasional yang merujuk pada karakter kolektif
bangsa dan dasar historis-kulturalnya. Setiap bangsa dianggap memiliki kaitan
dengan suatu budaya historis yang khas, cara tunggal dalam berpikir, bertindak,
dan berkomunikasi yang menjadi milik bersama bagi semua anggota bangsa (paling
tidak secara potensial) dan tidak dimiliki oleh non-anggota, karena non-anggota
tidak dapat memilikinya dan apabila budaya khas itu dilupakan atau tenggelam, maka
ia harus ditemukan, diingat dan dimunculkan kembali (Smith,2003:33-34). Jadi
sejarah nasional berfungsi untuk melambangkan identitas bangsa serta untuk
melegitimasikan eksistensi negara nasional (Kartodirdjo,1999:29).
Perjalanan
sejarah bangsa Indonesia diwarnai dengan beberapa peristiwa heroik, Tentara
Nasional Indonesia Angkatan Udara pada awal-awal pembentukkan sudah menorehkan
tinta emas dalam memperjuangkan integrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pasukan Gerak Tjepat Angkatan Udara (PGT AU) yang merupakan bagian integral
dari TNI AU mengambil bagian penting dalam perjalanan sejarah bangsa ini. Peran
yang dijalankan pada perjuangan pembebasan Irian Barat menjadi salah satu dari
sekian banyak peran yang telah dijalankan. Menjadi hal penting pengkomunikasian
dari apa yang telah dilakukan oleh para senior untuk bangsa ini kepada generasi
penerus untuk dapat menjadi contoh dan diambil hikmahnya. Tulisan ini berupanya
untuk menyampaikan mengenai peran yang telah dilakukan oleh para Prajurit PGT
AU dalam Operasi Trikora.
Pembentukkan
Negara Papua dan Respon Pemerintah Indonesia
Pada saat Indonesia memproklamasikan
kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, wilayahnya merupakan seluruh wilayah
Hindia Belanda, termasuk wilayah Irian Barat. Pada saat itu, Irian Barat masih dipertahankan oleh Belanda. Menghadapi
masalah Irian Barat,Indonesia mula-mula melakukan upaya damai, yakni melalui
diplomasi bilateral dalam lingkungan ikatan Uni Indonesia-Belanda. Akan tetapi
usaha-usaha melalui meja perundingan secara bilateral ini selalu mengalami
kegagalan. Setelah upaya-upaya tersebut tidak mambawa hasil maka sejak tahun
1953 perjuangan pembebasan Irian Barat mulai dilakukan di forum- forum
internasional, terutama PBB dan forum-forum solidaritas Asia-Afrika seperti
Konferensi Asia-Afrika. Sejak tahun 1954 masalah Irian Barat ini selalu dibawa
dalam acara Sidang Majelis Umum PBB, namun upaya ini pun tidak memperoleh
tanggapan yang positif. Setelah upaya-upaya diplomasi tidak mencapai hasil maka
pemerintah mengambil sikap yang lebih keras. Pada tanggal 17 Agustus 1956
Indonesia membentuk Provinsi Irian Barat dengan ibukota di Soasiu yang berada
di Pulau Tidore, dengan gubernur pertamanya, Zainal Abidin Syah yang dilantik
pada tanggal 23 September 1956. Namun demikian, pihak Belanda masih menganggap
bahwa wilayah tersebut merupakan salah satu salah satu provinsi dari Kerajaan
Belanda dan terus berupaya untuk menjadikan sebagai Negara Papua. Pada tanggal 31 Oktober 1961, bendera Papua
dikibarkan untuk pertama kali dan manifesto kemerdekaan diserahkan kepada
Gubernur Platteel. Belanda mengakui bendera dan lagu kebangsaan Papua ”Hai Tanahkoe Papua”, pada tanggal 18
November 1961.
Tindakan
Belanda dengan mendirikan negara “Boneka” Papua tersebut merupakan sikap yang
menantang kepada bangsa Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah segera
meresponnya. Guna membebaskan Irian Barat, Presiden Soekarno dalam suatu rapat
raksasa di Yogyakarta tanggal 19 Desember 1961 mengeluarkan komando yang
terkenal sebagai Tri Komando Rakyat (Trikora) yang isinya sebagai berikut :
1. Gagalkan pembentukan “Negara Papua” bikinan Belanda.
2.
Kibarkan Sang
Merah Putih di Irian Barat tanah air Indonesia.
3. Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan
kesatuan tanah air dan bangsa.
Infiltrasi Udara
Sebagai
tindak lanjut dari Tri Komando Rakyat tersebut, para perancang strategi perang
nasional membuat suatu keputusan yang sangat penting. Berdasarkan pertimbangan
dimensi ruang dan waktu, mereka memutuskan bahwa operasi-operasi yang
dilancarkan melalui media udara adalah cara yang paling efektif dan
menguntungkan. Apalagi pertimbangan dari faktor kekuatan dan kemampuan,
penggunaan kekuatan AURI saat itu adalah yang paling memungkinkan karena
menjelang dilancarkannya Operasi Trikora, AURI sedang berada di puncak
kejayaannya serta telah memiliki pasukan terjun payung yang handal dan telah
teruji dalam penumpasan-penumpasan separatis di wilayah Indonesia yaitu Pasukan Gerak Tjepat yang merupakan
cikal bakal Korpaskhasau (Korp Pasukan
Khas TNI Angkatan Udara) sekarang ini. Tahap awal pembabakan Operasi Trikora
adalah operasi infiltrasi melalui udara dengan menerjunkan pasukan melalui
udara langsung ke Irian Barat. Dalam rangka faktor pendadakan, operasi
dilaksanakan pada malam hingga pagi hari. PGT AU atau Pasukan Gerak Tjepat Angkatan Udara mengambil peran yang sangat
penting dalam operasi-operasi yang dilaksanakan, baik yang diintegrasikan
dengan pasukan dari RPKAD dan Benteng Raider sebagai pemandu maupun
yang diinflitrasikan secara tersendiri telah menorehkan tinta emas dalam
perjalanan sejarah perjuangan bangsa.
Operasi Benteng Ketaton
Sesuai dengan
Perintah Operasi (PO) Panglima Mandala (Pangla) No.01/PO/SR/4/1962 tanggal 11
April 1962 maka raid infiltrasi
melalui udara akan dilakukan oleh gabungan pasukan dari PGT-AU dan RPKAD. Hal
ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa Belanda tidak akan mengira jika pasukan
Indonesia akan melakukan hal tersebut mengingat rimba raya Irian Barat yang
mempunyai medan sangat sulit untuk dilakukan pendaratan pasukan terjun. Para
penerjun diinstruksikan untuk menyusup ke daerah lawan. Tujuannya untuk
mengacaukan situasi dari dalam sekaligus menarik perhatian Belanda agar tertuju
ke wilayah daratan (tengah) sehingga pasukan kawan yang akan mendarat di pantai
(daerah pinggir) dapat masuk lebih leluasa. Tujuan lainnya untuk merusak radar
milik Belanda yang berada di Kaimana.
Pada tanggal 15
April 1962, Kolonel Udara Wiriadinata didampingi SMU Picaulima serta KU I Atjim
Sunahju dipanggil untuk menghadap Men/Pangau Laksamana Madya Udara Oemar Dhani.
Pemanggilan tersebut berkaitan dengan akan diterjunkannya 18 anggota PGT-AU
dibawah pimpinan SMU Picaulima ke daerah Irian Barat terintegrasi dengan 30
prajurit pasukan RPKAD dan 2 prajurit Zeni dibawah pimpinan Letda Agus Hernoto.
Tanggal 26 April 1962 penerjunan dilaksanakan dengan sasaran wilayah Fak-Fak
dan Kaimana. Penerjun memakai overall
warna hijau tanpa tanda pangkat dan dibekali dengan senjata G-3 beserta peluru dan 6 buah granat
tangan serta perlengkapan makan.
Dropping pasukan
dilaksanakan pagi hari dengan sasaran sebelah utara kota Fak-Fak. Para penerjun
mendarat tersebar dan beberapa tersangkut di pepohonan, hal tersebut merupakan
suatu keuntungan karena beban yang dibawa para penerjun cukup berat sehingga
mempunyai resiko apabila langsung mendarat ditanah. PU I Pardjo tersangkut di
atas pohon yang tinggi dan setelah melepas parasut berusaha turun dengan
menggunakan tali. Pasukan yang diterjunkan kemudian melakukan konsolidasi dan
hasilnya adalah satu orang dinyatakan hilang. Kontak senjata terjadi dengan
pasukan Belanda karena kekuatan tidak seimbang maka pasukan menyusup ke hutan.
Pergerakan pasukan dilakukan dengan kondisi yang semakin lemah karena kehabisan
bahan makanan. Terjadi kontak dengan pasukan Belanda yang menyebabkan 3 orang
anggota PGT-AU gugur yaitu KU I Atjim Sunahyu, PU I Suwito, PU I Lestari dari
dan 2 orang dari RPKAD. Letda Agus Hernoto dan beberapa anggota tertawan,
sisanya kembali bergerilya ke hutan belantara termasuk PU I Pardjo yang kakinya
tertembak.
Penerjunan di
daerah Kaimana dilakukan oleh 1 team gabungan PGT-AU dan RPKAD dibawah pimpinan
Letda Heru Sisnodo dengan misi untuk menghancurkan radar di Kaimana. Pasukan
dibekali uang Gulden Papua, teknik mendekati
sasaran dengan mengikuti jejak pasukan Belanda dan menggunakan penduduk
setempat yang terpercaya sebagai penunjuk jalan. Pertama yang diterjunkan
adalah logistik dan daerah penerjunan terlihat dari atas seperti hamparan
daratan yang rata, padahal itu semua hanya fatamorgana karena dropping zone merupakan hutan belantara
yang sangat rawan. Dalam penerjunan tersebut, dua orang anggota mengalami
cidera patah kaki dan alat komunikasi rusak sehingga tidak dapat digunakan.
Anggota PGT-AU yang diterjunkan adalah KU I Sahudi, KU I Fortianus, KU I
J.Dompas, KU II Jhon Saleky, KU II Aipasaa serta 4 anggota PGT-AU. KU I Sahudi
tersangkut di atas pohon yang tingginya kira-kira 30 M, sedangkan KU I Dompas
menderita patah tulang punggung namun masih bisa melanjutkan operasi.
Konsolidasi memakan waktu yang cukup lama dan sering terjadi kontak senjata
dengan pasukan Belanda. Dalam suatu pertempuran, KU I Fortianus tertembak
dadanya hingga gugur sedangkan KU I Sahudi tertinggal karena cedera dan
akhirnya tertawan Belanda.
Operasi Garuda
Operasi ini berdasarkan kepada PO Pangla
No.02/PO/SR/5/1962 tanggal 13 Mei 1962 dengan sasaran Kaimana dan Fak-Fak
sebagai kelanjutan dari Operasi Benteng.. Tanggal 15 Mei 1962 diterjunkan
anggota PGT AU terintegrasi dengan pasukan Yon-454/BR-Diponegoro,sasaran adalah
daerah Kaimana.. Pada tanggal 19 Mei 1962, dilaksanakan penerjunan pasukan yang
terdiri dari 84 prajurit gabungan
dari PGT AU dan Pasukan Benteng Raiders dari Semarang.
Penggabungan ini dengan pertimbangan bahwa anggota dari Benteng Raiders baru menyelesaikan pendidikan terjun sehingga perlu
didampingi oleh pasukan yang mempunyai pengalaman dalam operasi penerjunan maka
PGT AU lah yang paling tepat untuk mendampingi pasukan.Berdarkan pertimbangan
tersebut maka pasukan dari PGT AU dipecah dan setiap regu minimal ada satu
orang PGT AU dengan tujuan memandu pasukan. Para penerjun membawa makanan,pakaian, senjata G-3 dan Pistol FN-45
beserta amunisi. Cuaca pada saat itu hujan sehingga pemandangan menjadi gelap
gulita dan udara terasa sangat dingin sekali karena waktu masih menunjukkan
04.00 pagi hari.
SMU Slamet yang
menjabat sebagai komandan peleton beserta 4 orang anggota BR mendarat di atas pepohonan, baru siang hari mereka dapat turun
dan mencari teman-teman yang lainnya. Akhirnya mereka
bertemu dengan 3 orang anggota yang salah satunya dalam kondisi pingsan. Tempat
pendaratan merupakan daerah pesisir utara kota Fak-Fak yang bernama Kampung
Kokas. Hampir satu bulan berada di kampung tersebut untuk melakukan
konsolidasi, hasilnya berhasil mengumpulkan 5 anggota lainnya. Perjalanan
dilanjutkan untuk menuju ke arah kota Fak-Fak dan dalam perjalanan tersebut
terjadi sedikitnya 6 kali kontak tembak yang telah menewaskan 2 orang anggota
dari BR dan 2 anggota PGT AU yaitu KU
I Barus dan KU Sugiman. Akhirnya SMU Slamet beserta sisa pasukannya tertawan
oleh Belanda.
Penerjun
lainnya adalah KU I Kamari selama lebih dari seminggu survival sendirian di dalam hutan, setelah bertemu dengan KU II
Kasiman, PU I Yachman dan PU I Lani kemudian melanjutkan perjalanan untuk
mencari induk pasukan dan pada tanggal 30 Mei 1962 akhirnya mereka bertemu
dengan 17 anggota BR dan kemudian
bergabung untuk melanjutkan perjalanan menuju kota Fak-Fak. Penunjuk arah hanya
mengandalkan tanda-tanda alam karena tidak ada yang membawa kompas dan Peta
yang dibawa sudah tidak sesuai dengan medan karena peta tersebut buatan tahun
1912. Seluruh anggota pasukan dalam kondisi lemah karena kekurangan bahan
makanan ditambah dengan sering terjadinya kontak senjata, tercatat 7 kali
terjadi kontak tembak. Keempat anggota PGT AU dan beberapa rekan dari BR sampai
akhir bulan Agustus tidak pernah tertawan oleh Belanda, perlawanan yang total
sebagai prajurit telah dibuktikan oleh mereka.
Pada tanggal 25
Mei 1962 dilaksanakan operasi penerjunan di daerah Sansopor-Sorong yang
dilakukan oleh 80 orang PGT AU. Inflitrasi ini dilakukan untuk memperkuat
pasukan yang telah lebih dulu diterjunkan di daerah Sansopor. Tugas utamanya
adalah untuk melaksanakan serangan dan mempersiapkan pendaratan pasukan bagi
operasi yang akan dilaksanakan dikemudian hari dan dalam rangka merusak sarana
komunikasi pihak lawan. Tim PGT AU yang diterjunkan di Sansopor-Sorong di bawah
Komandan Peleton LMU II Kasian. Para penerjun mengalami kesulitan dalam
mendarat karena medan berupa rawa-rawa dan pepohonan yang tinggi. PU I Marno,
terjerat oleh tali perasutnya, setelah berhasil melepaskan diri kemudian
menolong seorang temannya yang terjepit dua pohon besar. KU I Bakar ditemukan
dalam keadaan terluka pada kedua kakinya. PU I Sumadiredjo mendarat selamat
ditanah dan menemukan dua rekannya yaitu PU I Husein dan PU II Usman B dalam
keadaan tewas. Beberapa prajurit PGT AU lain mendarat tepat di atas mess
Belanda sehingga kontak senjata langsung terjadi. KU I Maliki dan PU I Kusno
gugur serta PU II Suradi tertawan Belanda. Beberapa hari kemudian bertemu
dengan Komandan Kompi LU I Soeyoto dan Wakil Komandan Kompi LMU I Karni dan
mendapatkan berita bahwa 1 regu PGT AU yang berada di Klamono dibawah pimpinan
PU I Tukijo tertawan Belanda.
Operasi Srigala
Dasar operasi ini adalah PO Pangla No.03/SR/5/62 tanggal 13 Mei 1962 dengan
sasaran daerah Sorong dan sekitarnya. Pasukan yang akan diterjunkan adalah dari
PGT AU dibawah pimpinan LU I Manuhua dan Wakilnya adalah LMU I Suhadi , SMU
Soepangat dan SMU Mengko. Pada tanggal 15 Mei 1962 rencananya dilaksanakan
penerjunan namun gagal karena cuaca yang sangat buruk, baru pada tanggal 17 Mei
1962 pukul 04.00 pagi hari penerjuanan dilaksanakan. 81 anggota PGT AU dengan
menggunakan 3 pesawat Dakota rencananya akan diterjunkan di daerah Klamono,
namun hanya satu pesawat yang berhasil diterjunkan yaitu 27 orang Tim PGT AU
dengan komandan Tim LU I Manuhua serta Dan Ton SMU Soepangat. Perlengkapan yang
dibawa para penerjun adalah senjata G-3
dengan 500 butir amunisi, Pistol FN-46
dengan 100 butir amunisi (khusus Dan Ru keatas), granat dua buah, pakaian
preman dan overall hijau tanpa
pangkat, beras 1 kg, tali 30 M serta perlengkapan makan, kampak dan parang.
KU I Supardi
adalah adalah penerjun pertama dan yang bertindak sebagai jumping master adalah KU I Ngatmo. Penerjunan mengambil ketinggian
2.500 kaki, hal ini dilakukan untuk menghindari perbukitan yang ada di sebelah
timur dropping zone. Banyak penerjun
yang mendarat di atas pohon dan baru bisa turun setelah beberapa hari seperti
yang dialami KU I Supardi. Pasukan penerjun ternyata mendarat secara menyebar
dan berada di wilayah sebelah utara Klamono, tepatnya di Pegunungan Mariyat
yang berupa hutan belukar. Pada hari ketiga KU I Supardi baru bertemu dengan teman-temannya antara lain SU
I Angkow, KU I Muis, KU I Muis, KU I Kusno, SU II Souisay dan PU I Sutarmono.
Beberapa hari kemudian baru bertemu dengan LU I Manuhua yang masih tergantung
di atas pohon, kemudian diturunkan namun menderita keseleo kakinya sehingga
berjalan dengan terpincang-pincang. Selama dua minggu penerjun yang terkumpul
adalah 12 orang. LU I Manuhua memutuskan pasukan dibagi menjadi dua kelompok.
Kelompok pertama terdiri dari 7 orang anggota dipimpin LU I Manuhua dan 5
anggota lainnya dipimpin LU I Supardi.
Kelompok yang
dipimpin LU I Manuhua berjalan menyusuri Sungai yang mengarah ke daerah Klamono
dan terjadi kontak tembak yang menyebabkan PU I Slamet gugur dan KU II Kusaeri
hilang dan dari pihak Belanda juga jatuh korban. Sisa pasukan kemudian berjalan
kembali dan bertemu dengan PU I Sutarmono. Pada KM 12 (sebelah tenggara Sorong)
terjadi insiden yang mengakibatkan gugurnya LU I Manuhua beserta seluruh anak
buahnya dan yang selamat hanyalah PU I Sutarmono.Kelompok yang lainnya
berjumlah 8 orang dipimpin SU II Souisay mengalami kontak tembak dengan Belanda
dan gugur beberapa prajurit dan sisanya tertawan Belanda.
PGT AU kibarkan Sang Merah Putih di Bumi Irian Jaya
Pada tanggal 19
Mei 1961 dengan menggunakan 1 pesawat C-130 Hercules telah diterjunkan sebanyak
81 orang anggota PGT AU (54 orang yang tertunda penerjunan di daerah Sorong) di
wilayah Teminanbuan di bawah pimpinan LMU I Suhadi dengan dibagi menjadi 3
Peleton yaitu Dan Ton I LMU I Suhadi merangkap Dan Tim, Dan Ton II SMU
Ngarbingan dan Dan Ton III SU I Mengko.Tepat pukul 02.30 penerjunan
dilaksanakan, sebagian besar pasukan diantaranya PU I Lili Sumarli dan PU I
Gunarso terkejut karena mendarat di atap seng yang ternyata asrama tentara
Belanda, kontak tembak terjadi dan pasukan Belanda mengundurkan diri ke kota
Teminanbuan. KU II Alex Sangido dan KU II Wangko gugur serta KU II Liud tertangkap. Menjelang siang,
pasukan bergeser ke hutan untuk bergabung dengan induk pasukan yang posisinya
juga tercerai berai. Siang harinya baru terkumpul dan dengan dipimpin Dan Ton
SMU Ngarbingan. Sore hari pasukan yang terkumpul ada sekitar 30 orang,
diantaranya PU I Gunarso, PU I Sunarto, PU I Misno, PU I Kosim dan beberapa
pasukan dari peleton LMU I Suhadi.
Pada tanggal 21 Mei 1962 pasukan PGT AU pimpinan LMU I Suhadi berjumlah
sekitar 40 orang berkumpul di Kampung Wersar. Atas inisiatif SU I Mengko
ditempat inilah bendera Merah Putih dikibarkan. Hal ini merupakan pengibaran
bendera Merah Putih yang pertama kali di bumi Irian Barat. Pukul 10.00, SU I
Mengko dengan dibantu beberapa orang lainnya mengibarkan Sang Merah Putih.
Pasukan kemudian meninggalkan tempat tersebut menuju ketinggian untuk
menghindari serangan dari Belanda. Selang beberapa lama ternyata insting
prajurit tersebut menjadi kenyataan, pesawat neptune Belanda membombardir daerah tersebut, namun berkat
kesigapan anggota pasukan dapat menghindar sambil terus melakukan perlawanan.
Serangan tersebut tidak menimbulkan korban jiwa dan semua pasukan dalam keadaan
selamat tidak ada yang cedera. Belanda terus melakukan serangan, baik dari
udara dengan menggunakan pesawat neptune dan
pesawat firefly maupun dengan
menggunakan pasukan darat. PGT AU melakukan perlawanan secara sengit namun
akhirnya pasukan menjadi tercerai berai menjadi beberapa kelompok kecil. Kelompok
PU I Gunarso beserta 4 orang yang lainnya terlibat baku tembak yang menyebabkan
PU I Kardi terluka pada tangannya dan kemudian tertangkap dan pada akhirnya KU
II Ngatijan, KU II Hadi Suprapto, KU II Radar dan KU II Basri tertawan Belanda
sedangkan PU II Sugondo berhasil meloloskan diri.
Pada
tanggal 24 Mei 1962, pasukan LMU I Suhadi yang sedang berusaha melakukan
pengunduran pasukan meninggalkan pertempuran di Teminanbuan mendapat serangan
dari Belanda. Pertempuran jarak dekat terjadi dan LMU I Suhadi gugur dengan
luka tembak dikepala termasuk SU I Sukardji. PU I Lili Sumarli. PU I Roedjito
sempat menguburkan jenazah LMU I Suhadi. Sebelum melanjutkan kembali bergerilya
dan bertemu dengan kelompok KU I Samingan beserta 2 anggotanya. Belanda terus
melakukan pengejaran dan terjadi lagi kontak senjata dan akhirnya KU I Samingan
dan 2 orang anggotan lainnya gugur. Sisa pasukan
kembali melakukan perlawanan sambil terus berusaha untuk melakukan
pengunduruan.
Kelompok
SU I Mengko beserta anggotanya pada tanggal 26 Mei 1962 mengalami kontak
senjata dengan pasukan Belanda dan mengakibatkan 4 orang prajurit PGT AU gugur.
Setelah mengembara beberapa hari, akhirnya kelompok SU I Mengko bertemu dengan
sisa pasukan kelompok PU I Roedjito. Pada tanggal 14 Juni 1962 pasukan tersebut
mendapat serangan dari Belanda yang pada akhirnya SU I Mengko dan beberapa
anggota tertawan Belanda namun 3 orang yaitu PU I Roedjito, PU I Istat dan PU I
Gunarso dapat meloloskan diri. Pada tanggal 22
Juni 1962 mereka mendapat serangan yang menyebabkan mereka tertawan dan
dimasukan ke kamp tahanan Belanda.
Operasi Jatayu
Operasi ini berdasarkan kepada PO Pangla No.15/PO/SR/7/1962 tanggal 9
Agustus 1962. Infiltrasi ini merupakan penutup
dengan tujuan memaksa Belanda untuk segera meninggalkan Irian Barat. Operasi
ini dilakukan secara serentak dengan sasaran daerah Klamono-Sorong, Kaimana dan
Merauke. 132 prajurit PGT AU dipimpin Kapten Udara Radix Sudarsono diterjunkan
dengan dibekali senjata G-3, 4 granat
tangan, uang 600 Gulden West Nieuw
Guinea, 4 kaleng makanan, sagu, beras, ponco, dua stel pakaian dinas
lapangan, alat survival dan 500 butir peluru. Pada tanggal 13 Agustus 1962,
pasukan diterjunkan dengan dibagi menjadi 3 sasaran yaitu peleton pertama di
daerah Klamono (Selatan Sorong), peleton 2 di daerah Kladuk (Timur Sorong) dan
peleton 3 di daerah Kalaili (lebih Timur lagi dari kota Sorong). Kapten Udara
Radix Sudarsono diterjunkan didaerah Kladuk. Cuaca saat dilaksanakan penerjunan
hukan cukup lebat dan gelap gulita. Hampir semua penerjun tersangkut diatas
pohon dan penerjun mendarat secara menyebar. Pasukan berkonsolidasi setelah dua
minggu bergerilya di hutan belantara dan itu pun hanya 60 % saja. Pada saat
mendekati kota Klamono terlihat bendera Merah Putih dan bendera PBB dan
ternyata telah terjadi gencatan senjata (ceasefire).
Pasukan PGT AU yang diterjunkan di Sorong masih banyak yang belum mengetahui
adanya gencatan senjata. Cara yang dilakukan untuk memberitahu pasukan yang
masih berada di hutan adalah dengan mnyeberkan pamlfet. Pasukan kemudian
berkumpul di sebuah rumah pada KM 12 Klasaman Sorong.
Nilai-Nilai Yang Terkandung dalam Operasi Trikora
Clausewitz
pernah berkata “Seseorang yang ingin memperoleh pengertian yang mendalam
mengenai dasar-dasar perang, harus mengerti
esprit de corps. Esprit de corps adalah semen yang
merekatkan menjadi satu segala mutu yang bersama-sama memberikan nilai militer
kepada suatu tentara”. Pengetahuan mengenai apa yang telah dicapai oleh sesuatu
angkatan dapat memainkan peranan yang penting di dalam perkembangan esprit de corps-nya. Berangkat dari hal
tersebut maka mengetahui perjalanan kepahlawanan para senior menjadi sangat
penting untuk tetap menjaga esprit de
corps.
Menyingkapi
kepahlawanan para prajurit PGT AU dalam melaksanakan Operasi Trikora sungguh
sangat penting untuk diambil nilai dan maknanya bagi para penerus. Nilai
Patriotisme dalam membela bangsa dan negara sungguh sangat tepat diberikan
kepada mereka. Patriotisme berangkat dari nilai-nilai yang sudah terkandung
dalam sikap bangsa Indonesia terhadap tanah airnya. Patriotisme sudah mengemuka sejak kisah-kisah
kepahlawan bangsa atau bagian dari bangsa yang berwujud perlawanan fisik
bersenjata, bahkan perlawanan dengan kekuatan berpikir terhadap pihak-pihak
yang ingin menguasai dan memaksakan kehendak kepada eksistensi bangsa
Indonesia. Kisah-kisah kepahlawanan PGT AU dalam Opersi Trikora telah
memberikan suatu pelajaran penting tentang kepribadian dan karakter bangsa
dalam menumbuhkembangkan sikap cinta tanah air
Sikap cinta tanah
air berhubungan erat dengan keindahan karena tidak ada cinta tanpa hadirnya
suatu keindahan. Jika tanah air
dicintai maka tanah air itu adalah keindahan. Keindahan dapat membebaskan
manusia dari energi besar yang menghimpit dirinya dan menghubungkan manusia
dengan minat dan cita tertingginya. semakin ingin memperindah tanah air akan
semakin dibutuhkan karya-karya unggul dan cemerlang dari setiap warga negara.
Karya yang unggul dan cemerlang dapat dihasilkan dengan suatu kekuatan dan
kemampuan. Oleh karena itu, kekuatan dan kecintaan kepada tanah air sangat
diharapkan untuk dimiliki oleh setiap warga negara yang ingin disebut patriot.
Sapta Marga menyebutkan bahwa prajurit merupakan patriot pendukung serta
pembela ideologi negara yang bersendikan Pancasila. Hal tersebut telah
diaplikasikan secara total oleh para prajurit PGT AU yang gugur sebagai kusuma
bangsa. Mereka adalah patriot-patriot bangsa.
Semangat membela tanah air yang dilakukan para prajurit PGT AU
dalam Opersi Trikora merupakan suatu bentuk pekerjaan yang mulia sesuai dengan
semboyan Korpaskhasau ”Karmaye Vadikarate Mafalesu
Kadatjana” yang artinya Bekerja tanpa menghitung
untung rugi.