Jumat, 15 Maret 2019

Belajar Intelijen sebagai Ilmu



Apakah Definisi Intelijen?
Intelijen dalam bahasa Indonesia merupakan terjemahan langsung dari Intelligence (N) dalam bahasa Inggris yang berarti kemampuan berpikir/analisa manusia. Mudahnya kita lihat saja test IQ (Intelligence Quotient), itulah makna dasar dari Intelijen.
Intelijen atau Intelligence berarti juga seni mencari, mengumpulkan dan mengolah informasi strategis yang diperlukan sebuah negara tentang negara “musuh”. Dari definisi ini berkembang istilah counterintelligence yang merupakan lawan kata dari intelligence.
Intelijen juga merujuk pada organisasi yang melakukan seni pencarian, pengumpulan dan pengolahan informasi tersebut di atas. Dengan definisi ini intelijen juga mencakup orang-orang yang berada di dalam organisasi intelijen termasuk sistem operasi dan analisanya.

USA, Russia (sejak era Uni Soviet) adalah dua negara yang mengembangkan intelligence mengarah pada sebuah field science baru. Keberadaan sejumlah Akademi di Russia, bahkan Sekolah Tinggi sampai Graduate School di USA (bersepesialisasi di bidang intelijen) merupakan langkah-langkah gradual menuju penciptaan field science of intelligence.
Sementara di sebagian besar negara “besar” seperti Inggris, Perancis, dan China, Intelligence masih dianggap sebagai seni yang dirahasiakan dan hanya diajarkan pada calon-calon agen intelijen selama beberapa tahun.

Hakikat Keberadaan Organisasi Intelijen
Mungkin kebanyakan orang menyangka keberadaan organisasi intelijen semata-mata hanya untuk kepentingan pemerintah atau elit politik yang berkuasa. Hal ini merupakan kekeliruan persepsi yang sangat membahayakan bagi nama baik sebuah organisasi intelijen. Dalam kasus kebijakan represif negara junta militer, otoriter, rejim komunis dan revolusi sejenisnya, memang terjadi penyimpangan fungsi intelijen yang hakikatnya ditujukan untuk menghadapi ancaman dari luar negara menjadi alat represi bagi pemerintah.
Teknik, mekanisme kerja, sistem analisa dan produk yang dihasilkan organisasi intelijen di manapun di dunia adalah sejenis, yaitu berupa hasil olah analisa berdasarkan data-data yang akurat dan tepat serta disampaikan secepat mungkin kepada para pengambil keputusan dalam sebuah negara.
Tidak ada yang misterius, aneh ataupun luar biasa dalam organisasi intelijen. Secara historis dan alamiah, organisasi intelijen memiliki ciri tertentu yang telah diketahui masyarakat luas, yaitu prinsip kerahasiaan. Ciri utama inilah yang kemudian menimbulkan tanda-tanya bagi masyarakat. Selanjutnya timbul pula praduga-praduga yang belum tentu benar sehingga mitologi intelijen menjadi semakin kabur dalam bayang-bayang cerita atau kisah nyata, cerita fiksi dan fakta terjadinya peristiwa yang sulit diungkapkan secara transparan kepada khalayak.
Definisi tugas pokok intelijen di seluruh dunia cukup jelas, yaitu pada umumnya bertugas mengumpulkan intelijen (informasi) dan melakukan operasi tertutup (kegiatan rahasia) di luar negeri. Intisari dua kegiatan utama tersebut adalah mengidentifikasi dan mencegah ancaman terhadap negara dan warga negara serta untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan negara.
Sementara itu, apa yang dimaksud dengan kegiatan intelijen di dalam negeri adalah kontra-intelijen (kontra-spionase), yaitu kegiatan rahasia yang ditujukan untuk mendeteksi kegiatan intelijen negara asing di dalam wilayah teritorial negara kita. Dalam perkembangannya kegiatan kontra-intelijen lebih ditujukan untuk menangkal kegiatan terorisme internasional maupun kejahatan trans-nasional.
Tidak ada istilah meng-inteli warga negara yang “kontra” pemerintah. Model ini hanya ada dan muncul di negara-negara blok komunis, junta militer dan negara otoriter dengan tujuan melanggengkan kekuasaan. Sementara di negara demokrasi, transparansi dan persaingan politik yang sehat dalam koridor hukum sewajibnya diterima sebagai aturan main dan intelijen harus “bersih” dari soal dukung-mendukung kekuatan politik yang bersaing di dalam negeri. Sangat mirip dengan peranan militer dalam negara demokrasi.
Apa yang sering disebut sebagai intelijen tingkat instansi dan intelijen polisi lebih mengarah pada spesifikasi sasaran operasi, dan mereka tidak melakukan operasi intelijen seperti hakikatnya intelijen. Apa yang mereka lakukan adalah penyelidikan dan penyidikan atas suatu pelanggaran hukum. Adapun teknik dan mekanisme kerjanya bisa saja sama dengan intelijen “murni”.
Intelijen militer bisa dianggap sebagai saudara kandung intelijen sipil. Tujuan, motivasi dan hakikat operasinya bisa dikatakan sama. Hanya saja cakupan ruang operasinya yang sedikit berbeda, bahkan seringkali terjadi operasi gabungan sesuai dengan kemampuan dan bidang masing-masing. Perbedaan hanya sedikit dalam tujuan operasi taktis (jangka pendek), sekedar contoh misalnya saja signal intelligence (SIGINT) sangat vital bagi intelijen militer karena terkait dengan pendeteksian mobilisasi militer asing yang menjadi pihak lawan (oposisi). Sementara itu, SIGINT bagi intelijen sipil lebih bermanfaat dalam mengamankan operasi tertutup di negara lawan dengan melakukan coding informasi yang rumit dan sulit dipecahkan lawan.
Meskipun dinamakan Organisasi Intelijen Sipil, organisasi intelijen yang baik tidak bisa hanya berwarna sipil karena pentingnya sentuhan militer. Hakikatnya merupakan gabungan antara kemampuan militer (tempur) atau combatants dan petugas intelijen (intelligence officers). Dengan kata lain, meskipun seorang anggota intelijen berlatar belakang militer dia juga punya kemampuan seluwes orang sipil. Sebaliknya petugas intelijen sipil wajib mempunyai kemampuan militer yang cukup. Mereka semua wajib untuk loyal dan bersumpah setia demi keselamatan rakyat dan negara. Intelktual, bakat, dedikasi dan keberanian adalah beberapa hal yang menjadi modal utama insan intelijen baik sipil maupun militer.
“Sebagai orang Indonesia yang peduli dengan reformasi intelijen Indonesia, terus terang saya sangat sedih dan kecewa dengan perkembangan, dinamika, serta prospek intelijen di Indonesia. Mudah-mudahan tulisan singkat ini dibaca dan dipahami oleh generasi muda, intelektual dan mereka yang aktif di dunia intelijen. Harapan saya adalah bangkitnya semangat dan berkembangnya kreatifitas serta kesungguhan dan tekad yang kuat dalam membangun organisasi intelijen di Indonesia yang ideal, bisa diaplikasikan serta memiliki citra positif di mata masyarakat Indonesia dan disegani oleh lawan yang menjadi ancaman bagi negara dan warga negara Indonesia”. (Senopati Wirang)
 Bidang  Studi Intelijen
Apa sebenarnya yang wajib dipelajari dalam studi intelijen secara akademik?
Pertanyaan itu terus menggelitik hati dan pikiran saya sejak Pak Hendropriyono menggagas dan akhirnya mewujudkan sekolah Intelijen setingkat S1 dan S2 beberapa tahun silam. Tanggung jawab dalam mencetak kader intelijen yang memiliki kapasitas kesarjanaan yang tinggi secara akademis terus membayangi sekolah Intelijen. Karena saya tidak bisa ikut campur dalam penyusunan kurikulum maupun penyelenggaraan sekolah tersebut, maka saya akan ungkapkan apa-apa yang wajib dipelajari dalam studi intelijen berdasarkan survey internet dan pengalaman sekolah saya (senopati wirang), sbb:
  1. Konteks studi intelijen seyogyanya lebih luas dari studi politik, ekonomi, hubungan internasional, kebijakan luar negeri, hukum internasional, kriminologi, etika, psikologi, dan usaha-usaha negara bangsa dalam memelihara keamanan politik, sosial, ekonomi, dan militer. Dengan kata lain studi intelijen bersifat multidisplin.
  2. Sebagai pondasi, diperlukan studi logika, matematika dan statistik serta dasar-dasar ilmu alam, filsafat manusia dan filsafat ilmu pengetahuan, geografi, dan sejarah dunia.
  3. Sebagai pengetahuan praktis dan teknis perlu dikembangkan spesialisasi khusus seperti bahasa asing, fotografi dan teknologi audio video, ilmu komputer, teknologi komunikasi, dan teknologi sistem pengamanan.
  4. Sebagai pilihan studi bisa disusun berdasarkan area studies (kajian wilayah/kawasan misalnya Asia Tenggara) atau issues studies (kajian masalah misalnya Terrorisme).
  5. Sebagai studi utama, tentu saja tetap mengajarkan dasar-dasar intelijen mulai dari internal security sampai pada analisa intelijen strategis tingkat advance.
The intelligence cycle
The intelligence cycle adalah proses mengolah informasi mentah menjadi produk intelijen yang disampaikan kepada pengambil kebijakan untuk digunakan dalam penentuan kebijakan dan langkah-langkah pelaksanaan kebijakan. Ada 5 langkah dalam perputaran intelijen.
  1. Planning and Direction. Merupakan manajemen informasi mulai dari identifikasi data-data yang diperlukan sampai pengiriman produk intelijen ke pengambil kebijakan atau pengguna produk intelijen. Merupakan awal dan akhir dari lingkaran. Menjadi awal karena berkaitan dengan penyusunan rencana yang mencakup kebutuhan pengumpulan informasi yang spesifik dan menjadi akhir karena produk akhir intelijen yang mendukung keputusan kebijakan, menciptakan permintaan-permintaan produk intelijen yang baru. Keseluruhan proses mengacu pada petunjuk pengambil kebijakan seperti Presiden atau Perdana Menteri, pembantu-pembantu di jajaran eksekutif seperti Dewan Keamanan Nasional, anggota kabinet….yang kesemua itu mengawali permintaan khusus kepada intelijen.
  2. Collection. Adalah pengumpulan data/informasi mentah yang diperlukan untuk memproduksi analisa intelijen. Ada banyak sekali sumber-sumber informasi termasuk informasi terbuka seperti berita radio asing, surat kabar, majalah, internet, buku, dll. Informasi terbuka merupakan salah satu sumber utama intelijen yang harus dimekanisasikan secara disiplin menjadi sebuah rutinitas sehari-hari yang menjadi supply tidak terbatas yang akan mendukung analisa intelijen. Bila anda pernah berkunjung ke CSIS di Tanah Abang III Jakarta, perhatikan bagaimana intelijen masa Orde Baru berbagi teknik dengan lembaga penelitian dan menjadikannya sebagai salah satu lembaga yang disegani. Guntingan Koran CSIS adalah khas pekerjaan membosankan yang sangat vital bagi intelijen, khususnya bagi perwira analis, karena dengan mengikuti setiap waktu perkembangan terkini dari media massa akan melatih insting analisanya. Di samping itu, ada juga informasi rahasia dari sumber-sumber yang rahasia pula. Informasi ini hanya memiliki prosentase yang kecil namun sifatnya amatlah sangat penting sehingga sering juga menjadi penentu dari sebuah produk intelijen. Biasanya diperoleh dari operasi tertutup oleh para agen intelijen atau melalui informan. Secara teknis penngumpulan data juga dilakukan oleh peralatan canggih secara elektronik dan fotografi serta satelit.
  3. Processing. Berkaitan dengan interpretasi atas data/informasi yang sangat banyak. Mulai dari penterjemahan kode, penterjemahan bahasa, klasifikasi data, dan penyaringan data. Dalam organisasi intelijen tradisional dan konservatif, seorang agen baru seringkali harus melalui masa-masa membosankan melakukan pemilahan data berdasarkan kategori yang ditentukan atasannya. Hal ini sangat penting untuk membiasakan diri dalam menyusun jurnal pribadi maupun jurnal unit yang sangat vital dalam mempercepat proses penemuan kembali data-data lama yang tersimpan. Juga membiasakan diri untuk segera melihat data dari sudut pandang potensi spot intelijen atau memiliki potensi ancaman.
  4. All source Analysis and Production. Merupakan konversi dari informasi dasar yang telah diproses menjadi produk intelijen. Termasuk didalamnya evaluasi dan analisa secara utuh dari data yang tersedia. Seringkali data yang ada saling bertentangan atau terpisah-pisah. Untuk keperluan analisa dan produksi, seorang analis, yang biasanya juga spesialis bidang tertentu, sangat memperhatikan tingkat “kepercayaan”data (bisa dipercaya atau tidak), tingkat kebenaran dan tingkat relevansi. Mereka menyatukan data yang tersedia dalam satu kesatuan analisa yang utuh, serta meletakkan informasi yang telah dievaluasi dalam konteksnya. Bagian akhirnya adalalah produk intelijen yang mencakup penilaian atas sebuah peristiwa serta perkiraan akan dampaknya pada keamanan nasional. Salah satu unsur vital dari produk intelijen adalah peringatan dini dan perkiraan keadaan. Sementara model laporan ada macam-macamnya mulai dari yang sangat singkat berupa telepon lisan yang menjadi laporan kepada pimpinan negara, sampai laporan yang cukup tebal mencakup analisa perkiraan keadaan tahunan. Dari beberapa kasus yang terungkap di media massa, terlihat jelas bahwa baik BIN maupun BAIS TNI sangat lemah di sektor analis ini, entah karena sumber daya manusia-nya yang levelnya masih sebatas lulusan akademi militer, D3 atau S1 saja, atau karena memang keterbatasan dana yang menyebabkan lembaga intelijen tidak berkutik soal peningkatan SDM. Bandingkan misalnya dengan CIA atau Mi6 yang secara aktif mengirimkan para analisnya ke universitas-universitas di berbagai negara untuk menempuh studi doktor sekaligus memantapkan spesialisasi masing-masing.
  5. Dissemination. Merupakan langkah terakhir yang secara logika merupakan masukkan untuk langkah pertama. Adalah distribusi produk intelijen kepada pengguna (pengambil kebjiakan) yang biasanya adalah mereka yang meminta informasi kepada intelijen. Untuk kasus Indonesia, pengguna disini hampir identik dengan Presiden.

Kegiatan Rahasia
Metode pengumpulan informasi oleh organisasi intelijen di seluruh dunia selalu mengandalkan human intelligence (humint). Pertanyaannya kemudian adalah apakah metode klasik penyampaian informasi ke kantor pusat masih saja berlangsung. Pola-pola operasi dead drop microfiche dan brushpass, dll tampaknya semakin rawan. Sementara komunikasi melalui internet jelas sangat terbuka oleh program-program deteksi semacam cyberspy dan kaum hacker serta sistem pengawasan oleh provider internet dan pemerintah.
Sistem pengawasan lingkungan yang semakin ketat sejalan dengan perkembangan teknologi mau tidak mau akan menyulitkan kegiatan rahasia di luar negeri.
Berbeda dengan kegiatan rahasia di dalam negeri, kegiatan rahasia di luar negeri tidak saja beresiko karena melanggar hukum sebuah negara melainkan juga karena bisa merusak kredibilitas sebuah negara di mata negara yang dimata-matai. Lebih jauh merusak hubungan diplomatik.
Hal yang paling lucu dari kegiatan rahasia di luar negeri belakangan ini adalah para intel dari berbagai negara akhirnya minum kopi bersama-sama di Starbuck sambil berdiskusi tentang terorisme internasional, tentang masalah internasional, dengan pengecualian masalah di negara masing-masing, lha bagaimana ini…mungkin abad 21 ini merupakan akhir dari kasus-kasus espionage antar negara. Hal ini saya perhatikan terjadi di Paris, Washington DC, Tokyo, Hongkong, Singapore, dan bahkan Jakarta.
Tentu tidak seluruhnya demikian, hal tersebut di atas hanya terjadi diantara organisasi yang sudah menjadi counterpart dan memiliki kesepakatan untuk bekerjasama. Tentu masih ada hal-hal yang bersifat spionase dalam kadar yang relatif berbeda-beda.
Bagaimana dengan kegiatan rahasia di dalam negeri? Dahulu salah seorang junior saya yang berwajah sangar tapi baik hati sering mengajarkan pada calon agen untuk mengutamakan keberanian, karena operasi di wilayah sendiri. Apapun persoalannya bisa diatasi karena kita memiliki “hak” untuk melakukan operasi keamanan. Keberanian yang kadangkala melangkah terlalu jauh dari sisi kerahasiaan, akibatnya ada beberapa agen yang sangat baik harus mengakhiri karirnya dari operasi lapangan karena terekspos ke pihak lawan atau ke publik, contohnya agen yang membongkar jaringan Jamaah Islamiyah.
Mengingat pentingnya kegiatan rahasia dengan segala prinsip-prinsipnya, saya ingin menghimbau kepada seluruh jajaran intelijen untuk kembali menerapkan standar baku kerahasiaan, khususnya dalam membentuk calon agen menjadi agen rahasia. Agak aneh membahas kegiatan rahasia di media yang tidak rahasia, tetapi dengan variasi pembaca yang tidak saya ketahui, mungkin ada pesan yang tertangkap entah oleh siapa.

Sumber dari “Senopati Wirang” Intelindonesia.blogspot.com

MAKAM PANGERAN JAYAKARTA DAN MASJID ASSALAFIAH SEBAGAI WARISAN SEJARAH PERJUANGAN PANGERAN AHMAD JAKETRA

MAKAM PANGERAN JAYAKARTA DAN MASJID ASSALAFIAH SEBAGAI WARISAN SEJARAH PERJUANGAN PANGERAN AHMAD JAKETRA


oleh : Raden Bimo Wicaksono
(alumnus Universitas Negeri Jakarta, 2014)

Jika kita berbicara tentang Pangeran Jayakarta maka tidak dapat dipisahkan dengan pejuang terdahulu, ialah yang telah mewariskan Jayakarta untuk selanjutnya dipelihara turun temurun kepada anak cucunya. Itulah yang di da’wahkan oleh Fatahillah/Syarif Hidayatullah/Sunan Gunung Jati, karena Jayakarta itu adalah suatu wadah Ibu Kota Negara yang dihasilkan dari kemenangan yang nyata.
Jayakarta yang sebelumnya bernama Sunda Kelapa, merupakan daerah kekuasaan Kerajaaan Padjajaran. Kemudian pada tahun 1527 M, Fatahillah/Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) sebagai panglima perang Kerajaan Banten berhasil menaklukkan Sunda Kelapa dari kekuasaan Kerajaan Padjajaran dan dari rongrongan penjajahan Portugis yang juga ingin menguasai Sunda Kelapa tersebut.
Pada tanggal 22 Juni 1527 di Sunda Kelapa dilaksanakan upacara besar (Tasyakur) sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah Yang Maha Esa atas kemenangan yang telah dicapai. Kemudian pada tanggal 22 Juni 1527 dijadikan sebagai Hari Jadi Kota Jakarta.

§     Hubungan Pangeran Ahmad Djakerta (Djayakarta) dengan Asal Usul Nama Jatinegara
Pada tahun 1610–1619 terjadi peperangan antara Pangeran Djayakarta dengan Belanda. Ketika perang berlangsung, pihak Pangeran Jayakarta berusaha tetap bertahan dari serbuan pasukan Belanda yang terus mendesak kedudukan Pangeran Jayakarta. Belanda kemudian memainkan taktik liciknya yaitu dengan mengepung basis pertahanan Pangeran Jayakarta. Di pihak Pangeran Jayakarta pun ada seorang pengikutnya yang tertangkap Belanda, kemudian pengikutnya itu terpaksa memberitahukan kelemahan yang dimiliki oleh Pangeran Ahmad Jaketra. Kemudian setelah memberitahukan kelemahan tersebut dia dibebaskan. Saat pengikut Pangeran Jaketra ini kembali ke daerahnya, ternyata dia dianggap sebagai pengkhianat karena memberitahukan kelemahan yang dimiliki oleh Pangeran Ahmad Jaketra.[1]
Oleh karena itulah pengikut beliau yang dianggap pengkhianat ini, dihukum dengan diikat kakinya kemudian ditarik oleh 12 ekor kuda sampai selangkangan kaki dan kulitnya pecah. Kisah inilah yang oleh warga setempat menjadi nama dari sebuah daerah yaitu Pecah Kulit di daerah Mangga Dua.
Setelah Pangeran Djaketra berhasil menyelamatkan diri dari serangan Belanda, beliau bersama pengikutnya mencari tempat untuk memindahkan basis pertahanannya menuju ke arah timur Jakarta dan letaknya di seberang Kali Sunter. Di tempat itulah Pangeran Ahmad Djakerta menyusun strategi  perang gerilya. Kemudian pada akhir tahun 1619 M, diresmikanlah tempat Pangeran Ahmad Jakerta  menetap dengan diberi nama JATINEGARA yang artinya Pemerintahan Sejati. [2]
Selanjutnya untuk menjaga keselamatan anak cucu/keturunannya maka Pangeran Ahmad Jaketra sebelum akhir hayatnya berwasiat bahwa tempat dan keadaan beliau harus dirahasiakan kepada siapapun juga selama bangsa Belanda masih bercokol di Nusantara. Maka dengan amanat/wasiat inilah selama itu pula dipegang teguh oleh anak/cucu keturunan beliau termasuk para sesepuh dahulu yang ada di Jatinegara Kaum.[3]
“Nama Jatinegara adalah suatu bukti nyata bahwa di daerah ini oleh Pangeran Ahmad Jaketra dijadikan basis pertahanan, tempat penyusunan kekuatan, tempat akhir hidup dan pemakamannya dalam masa menghadapi penjajah Belanda”, ujar Drs. R. Mayusdi, M. Si.[4]
Jadi andaikata Pangeran Ahmad Jakerta tidak mengungsi dan memilih daerah ini, tidak mungkin nama tempat ini disebut Jatinegara Kaum yang menjadi tempat makam pangeran Ahmad Jakerta dan berdirinya sebuah Masjid bersejarah yaitu Masjid Assalafiah di daerah Jatinegara Kaum. 
Masjid Assalafiah di Jatinegara Kaum 
Pangeran Ahmad Jakerta kemudian mendirikan sebuah masjid yang bernama “Assalafiah” yang berarti Tertua. Masjid ini terletak di wilayah RT 006/RW 03 tepatnya di Jalan Jatinegara Kaum Raya, di tepi timur sungai Sunter. Bangunan ini sudah mengalami perbaikan, penambahan dan pemugaran, sehingga bentuknya yang sekarang tidak sesuai lagi dengan bangunannya yang lama.
Bagian yang asli dari bangunan masjid ini adalah atap yang terdapat di sebelah barat. Atap ini berbentuk limas/kerucut, semakin keatas semakin meruncing dengan bagian dasarnya berbentuk bujur sangkar. Atapnya genteng, sedangkan kaso, reng dan tiang penopang terbuat dari kayu.[6]
Menurut informasi Drs. R. Mayusdi, M.Si (salah satu ahli waris dan keturunan ke 9 dari Pangeran Ahmad Jakerta) dulunya atap ini bertumpang dua seperti lazimnya atap-atap mesjid kuno lainnya di Pulau Jawa. Berdenah bujur sangkar dengan ukuran 10x10 meter. Pintu masuk berukuran lebar yang terdiri dari dua daun pintu. Jendela berukuran besar dengan terali yang terbuat dari kayu batang pohon aren.[7]
Kompleks Makam Pangeran Jayakarta

Pada tahun 1640 M Pangeran Jayakarta meninggal dunia dan dimakamkan di dekat Masjid Assalafiah bersama puteranya Pangeran Lahut dan familinya yaitu Pangeran Sageri yang merupakan putera dari Sultan Ageng Tirtayasa, lalu istri dari Pangeran Sangiyang yaitu Ratu Rafiah serta Pangeran Suria. 
Komplek makam yang terdiri dari makam Pangeran Jayakarta, keluarga pangeran dan masyarakat biasa terletak di sebelah barat daya dan utara masjid. Khusus makam Pangeran Jayakarta dan keluarganya berlokasi di sebelah barat daya masjid. Makam-makam ini diletakkan pada tempat yang agak tinggi. Bentuk dan hiasan nisan hampir seluruhnya serupa, yakni berbentuk pipih dengan hiasan kerawal, bentuk kijing berundak, sekarang berhiasan marmer.[8]
“Waktu masih hidup, Pangeran Jayakarta pernah berpesan agar jika mati kuburannya dirahasiakan sampai Belanda angkat kaki dari Jakarta,” kata Raden Supriyadi Rosyid, penjaga makam Pangeran Jayakarta yang terletak di pekarangan Masjid As-Salafiyah tersebut.[9]
“Sebab, kalau sampai ketahuan Belanda, makam itu pasti dimusnahkan,” lanjut pria berusia 58 tahun itu. Wasiat itulah yang kemudian berusaha dipenuhi kerabat dan keturunannya. Sejak Pangeran Ahmad Jakerta (Jayakarta) wafat dan dimakamkan tahun 1640, mereka menutup rapat-rapat segala informasi tentang keberadaan kuburannya.
Rahasia tersebut terus dijaga dari generasi ke generasi selama lebih dari tiga abad, sampai penjajah Belanda benar-benar hengkang dari bumi Nusantara. “Baru pada zaman Gubernur Henk Ngantung keberadaan makam ini diungkapkan kepada umum,” ujar Rosyid yang mengaku termasuk keturunan ke-13 dari Pangeran Jayakarta.
Setelah itu, makam Pangeran Jayakarta tak pernah sepi dari kunjungan para peziarah. Mereka tak cuma datang dari Jakarta dan sekitarnya, tetapi bahkan dari berbagai daerah di luar Jawa. Menurut penuturan Rosyid, “Peziarah banyak datang Mas kesini, terutama pada setiap malam Jumat.”
Sebagai pejuang yang melawan Belanda di Jakarta, Pangeran Jayakarta dianggap sebagai salah seorang pahlawan Jakarta. Karenanya, sudah jadi tradisi bagi gubernur Jakarta untuk berziarah ke makamnya setiap hari ulang tahun Ibu Kota Jakarta.[10] Selain itu, makam tersebut juga digunakan sebagai program ziarah tahunan yang dilakukan oleh pihak TNI khususnya pada saat HUT Kodam Jayakarta setiap tanggal 24 Desember.[11]

§     Jatinegara Kaum : Desa Historis
Batas-batas wilayah Kelurahan Jatinegara Kaum yaitu :[12]
ª      Utara berbatasan dengan Kelurahan Pulogadung dan Jalan PT Danapaint.
ª      Timur berbatasan dengan Jalan Raya Bekasi dan Kelurahan Jatinegara.
ª      Selatan berbatasan dengan Kelurahan Klender dan rel kereta api.
ª   Barat berbatasan dengan Kelurahan Cipinang, Jatirawamangun, dan Kali Sunter.
       
Jatinegara Kaum merupakan salah satu desa yag terletak 5 Km di sebelah timur Stasiun Meester/Rawabangko (sekarang Stasiun Jatinegara) dan sekarang berada dalam wilayah Kelurahan Jatinegara Kaum, Kecamatan Pulogadung, Kota Administrasi Jakarta Timur.
Sejak tahun 1947 hingga sekarang Jatinegara Kaum masuk ke dalam Kecamatan Pulo Gadung. Daerah ini baru menjadi kelurahan tersendiri pada tanggal 1 Oktober 1966 yang merupakan penggabungan dari pecahan Kelurahan Klender, Jatinegara dan Rawaterate. Dengan demikian kini secara administratif Jatinegara Kaum merupakan kelurahan di bawah Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur .[13] Luas wilayah Jatinegara pada zaman Pangeran Ahmad Jakerta seluas 1200 Hektare. Kemudian luas wilayah Jatinegara sekarang yang lebih dikenal dengan Kelurahan Jatinegara Kaum seluas 200 Hektare sejak keputusan Gubernur DKI Jakarta tahun 1966.
Pada masa itu pergaulannya hanya terbatas dalam lingkungan kekeluargaan saja, dan mengenai perkawinan pun selalu dilakukan antar warga (perkawinan sepupu). Warga tidak dibolehkan menjual tanah pekarangannya kepada orang lain yang berasal dari luar daerah Jatinegara Kaum. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga keaslian “Tanah Pusaka” peninggalan Pangeran Ahmad Djakerta. Sifat gotong royong yang tetap tertanam di dalam jiwa setiap warga Jatinegara Kaum merupakan suatu warisan dari nenek moyang yang turun-menurun. Selain itu warga Jatinegara Kaum sejak dahulu sampai sekarang memegang teguh wasiat Pangeran Ahmad Djakerta yaitu untuk tidak membunyikan gamelan khusus yang disebut Go-ong.[14]
Menurut Drs. Mayusdi, M. Si, Go-ong adalah sebuah gong besar yang ada di gamelan, digunakan untuk acara peresmian gedung. Namun bagi keturunan Pangeran Ahmad Jakerta (Jayakarta) tidak memakai alat ini sebagai hiburan seperti wayang golek dan lenong. Hal ini dikarenakan adanya pantangan (pamali) yang dipegang teguh oleh warga Jatinegara Kaum. Apabila dilanggar maka anak/cucu keturunan akan mendapatkan kesusahan dan kesulitan seumur hidupnya.[15]

§     Siapakah Sosok Pangeran Ahmad Djakerta ??
Pangeran Ahmad Djakerta Jayakarta adalah putra Pangeran Sungerasa Djajawikarta/Aria Tengah dan juga cucu dari Ratu Bagus Angke, yang merupakan bangsawan asal Banten. Ratu Bagus Angke alias Pangeran Hasanuddin adalah menantu Fatahillah atau Falatehan (Sunan Gunung Jati/Syarif Hidayatullah), peletak dasar Kesultanan Cirebon dan Banten.[16]
Pangeran Ahmad Djakerta meneruskan perjuangan ayahnya dalam melawan Kompeni Belanda setelah ayahnya tersebut memenuhi panggilan Sultan Banten pada bulan Februari 1619. Penyebab pemanggilan itu karena Pangeran Sungerasa Djajawikarta (ayah dari Pangeran Djakerta) dianggap bersepakat dengan Inggris dan menjalankan tindakan serta penyelewengan tanpa seizin Sultan Banten. Hal ini jelas merupakan siasat adu domba Belanda agar kekuasaan di Jayakarta melemah.[17]
Perselisihan antara Pangeran Ahmad Djakerta dengan Belanda terjadi pada tahun 1610–1619. Perang tersebut tidak seimbang karena Belanda dengan siasat liciknya mengetahui kelemahan yang dimiliki Pangeran Djakerta. Belanda kemudian mendesak pertahanan pasukan Pangeran Djakerta sehingga kedudukan beliau terdesak dan terkepung.
Dalam menghadapi situasi ini Pangeran Djakerta menggunakan taktik menipu Belanda. Menurut cerita Raden Jayanegara, yang juga keturunan Pangeran Jayakarta, menyebutkan saat jadi buronan Belanda, kakek moyangnya itu berhasil mengelabui tentara Belanda dengan melepas jubah dan sorbannya, yang lantas dibuang ke dalam sebuah sumur di daerah yang sekarang bernama Mangga Dua, Jakarta Barat.[18]
Belanda menyangka Pangeran Jayakarta tewas setelah menembaki jubah dan sorban di sumur itu, yang kini berada di Jalan Pangeran Jayakarta, Mangga Dua dan dikenal sebagai keramat Pangeran Jayakarta.

KESIMPULAN
Djayakarta bukanlah sebutan nama orang, melainkan nama tempat yang berasal dari aslinya yaitu “Sunda Kelapa”. Penggantian nama dari Sunda Kelapa menjadi nama Jayakarta dilakukan setelah Fatahillah berhasil merebutnya dari kekuasaan Kerajaan Padjajaran dan penjajah Portugis.
Bagi keluarga besar Jatinegara Kaum, terlepas dari pandangan orang secara umum yang dimaksud dengan “Pangeran Djajakarta” satu-satunya adalah Pangeran Ahmad Jakerta yang telah dikenal masyarakat. Perjuangan Pangeran Ahmad Jakerta bukanlah perjuangan untuk kepentingan pribadi, akan tetapi perjuangan untuk kepentingan daerahnya dalam menentang penjajahan.
Sejarah Pangeran Ahmad Jaketra (Djajakarta) memiliki hubungan erat dengan peninggalan benda-benda bersejarah yang sampai saat ini masih tetap terjaga kelestariannya seperti Masjid Assalafiah dan Makam Pangeran Ahmad Jakerta (Djayakarta). Kemudian barang-barang pusaka yang merupakan warisan peninggalan sejarah dari Pangeran Ahmad Jakerta (Jayakarta).
Berdasarkan pembahasan di atas dapat kita ambil makna bagaimana seorang Pangeran Ahmad Jaketra yang berjasa sangat besar dalam meletakkan pondasi dasar  awal terbentuknya Jakarta dan khususnya daerah Jatinegara Kaum.


[1] Arsip Rukun Warga Pangeran Ahmad Jaketra, “Peranan Perdjuangan Pangeran Ahmad Jaketra dan Pengaruhnya terhadap Perkembangan Islam di Djakarta”, Panitia Ad Hock Sedjarah Pangeran Ahmad Jaketra, April 1972, hlm. 13.
[2] Arsip Rukun Warga Pangeran Ahmad Jaketra, “Peranan Perdjuangan Pangeran Ahmad Jaketra dan Pengaruhnya terhadap Perkembangan Islam di Djakarta”, Panitia Ad Hock Sedjarah Pangeran Ahmad Jaketra, April 1972, hlm. 15.
[3] Sumber lisan wawancara dengan Drs. R. Mayusdi, M. Si, salah satu ahli waris keturunan ke 9 dari Pangeran Ahmad Jakerta (Jayakarta) pada tanggal 23 Desember 2010 pukul 15.00 WIB.
[4] Sumber lisan wawancara dengan Drs. R. Mayusdi, M. Si, salah satu ahli waris keturunan ke 9 dari Pangeran Ahmad Jakerta (Jayakarta) pada tanggal 23 Desember 2010.
[5] Foto diambil pada tanggal 23 Desember 2010 pukul 15.00 WIB.
[6] Sumber lisan wawancara dengan Drs. R. Mayusdi, M. Si, salah satu ahli waris keturunan ke 9 dari Pangeran Ahmad Jakerta (Jayakarta) pada tanggal 23 Desember 2010 pukul 15.00 WIB.
[7] Sumber lisan wawancara dengan Drs. Mayusdi, M. Si, salah satu ahli waris keturunan ke 9 dari Pangeran Ahmad Jakerta (Jayakarta) pada tanggal 23 Desember 2010 pukul 15.00 WIB.
[8] Artikel “Kampung Tua di Jakarta”, Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta, 1993.
[9] Sumber lisan wawancara penulis dengan Raden Supriyadi Rosyid, salah satu keturunan ke 13 dari Pangeran Ahmad Jakerta (Jayakarta) pada tanggal 24 Desember 2010 pukul 10.00 WIB.
[10] Sumber lisan wawancara dengan Drs. Mayusdi, M. Si, salah satu ahli waris keturunan ke 9 dari Pangeran Ahmad Jakerta (Jayakarta) pada tanggal 23 Desember 2010 pukul 15.00 WIB.
[11]  Sumber lisan wawancara dengan Serda. Agus, saat sebelum upacara Peringatan HUT Kodam Jaya pada tanggal 24 Desember 2010 pukul 07.00 WIB.
[12] Arsip Kelurahan Jatinegara Kaum, diakses pada tanggal 23 Desember 2010.
[13] Arsip Kecamatan Pulo Gadung, diakses pada tanggal 23 Desember 2010.
[14] Sumber lisan wawancara dengan Drs. R.  Mayusdi, M. Si, salah satu ahli waris keturunan ke 9 dari Pangeran Ahmad Jakerta (Jayakarta) pada tanggal 23 Desember 2010.
[15] Sumber lisan wawancara dengan Drs. R.  Mayusdi, M. Si, salah satu ahli waris keturunan ke 9 dari Pangeran Ahmad Jakerta (Jayakarta) pada tanggal 23 Desember 2010.
[16] Arsip Rukun Warga Pangeran Ahmad Jaketra, “Peranan Perdjuangan Pangeran Ahmad Jaketra dan Pengaruhnya terhadap Perkembangan Islam di Djakarta”, Panitia Ad Hock Sedjarah Pangeran Ahmad Jaketra, April 1972, hlm. 11.
[17] Arsip Rukun Warga Pangeran Ahmad Jaketra, “Peranan Perdjuangan Pangeran Ahmad Jaketra dan Pengaruhnya terhadap Perkembangan Islam di Djakarta”, Panitia Ad Hock Sedjarah Pangeran Ahmad Jaketra, April 1972, hlm. 10.
[18] Berdasarkan wawancara dengan Drs. R. Mayusdi, M. Si, (salah satu ahli waris keturunan ke 9 dari Pangeran Ahmad Jakerta, yang juga keluarga dari Raden Jayanegara) pada tanggal 23 Desember 2010.